Kenapa Mobil Cina Bisa Murah? Ternyata Ada Strateginya Lho Sob…

Foto: aftermarketplus.id

AFTERMARKETPLUS.id – Fenomena mobil Cina dengan harga murah namun memiliki beragam fitur menarik, mampu memberikan pilihan segar bagi konsumen Tanah Air. Bagaimana produsen asal Cina meracik harga murah tersebut? Ternyata ada startegi agar biaya produksi menjadi lebih murah.

Salah satu strateginya adalah penggunaan komponen asal Cina yang memiliki harga sangat murah. Hal ini didasari atas produksi komponen dalam jumlah besar di negara asalnya sehingga mampu mereduksi harga mobil secara keseluruhan.

Dian Asmahani selaku Brand Manager Wuling Motors pun menjelaskan bahwa lokal konten Wuling yang sudah mencapai 56%, turut menyumbang harga jual produknya. Hal ini diungkapkan saat GIIAS 2018 lalu.

Direktur After Sales Wuling Motors, Taufik S. Arief, turut menjelaskan bahwa spare part yang kami datangkan dari Cina memiliki skala ekonomi sangat baik.

Tak heran, jika kedua hal ini memberi kontribusi yang membuat produk asal Cina memiliki harga jual produk yang begitu menarik pasar.

Foto: aftermarketplus.id

Belum lagi dengan lisensi mesin yang digunakan. Seperti penerapan mesin Chevrolet pada Wuling Confero, jelas mereduksi R&D (Research & Development) yang notabene memakan biaya sangat mahal untuk meracik sebuah mesin modern.

Wajar jika produsen Eropa dan Jepang pun turut menerapkan strategi satu mesin untuk disematkan pada beragam model agar mereduksi biaya R&D. Sebut saja mesin 1.500 cc milik Honda yang digunakan pada Jazz, Mobilio, BR-V, HR-V hingga Freed atau mesin 1.4 TSI milik Volkswagen yang dipasangkan pada Polo, Touran dan Golf.

Begitu pun dengan teknologi sasis. Toyota kini memiliki sasis bersama yang disebut dengan Toyota New Global Architecture (TNGA). Dengan platform baru ini, Toyota mampu mereduksi puluhan sasis yang selama ini digunakan.

“Harus ada batas minimum produksi agar skala ekonomis dapat tercapai. Karena biaya produksi untuk menganti cetakan dalam sebuah produksi, memerlukan biaya yang mahal, seperti yang terjadi pada Suzuki Ertiga yang berganti mesin menjadi 1.500 cc ini,” jelas Harold Donnel, Head of 4W Brand Devolopment & Marketing Research PT Suzuki Indomobil Sales saat di Bali (29/6).

Produsen Cina pun berusaha untuk melahirkan mesin buatan mereka sendiri, seperti yang digunakan pada DFSK Glory 580. Dengan kode mesin SFG15T, mesin ini memiliki teknologi turbocharged sehingga menyerupai mesin racikan BMW dan Honda. Baca http://aftermarketplus.id/oto-pintar/bandingkan-mesin-1-500-cc-turbo-di-bmw-x1-honda-cr-v-1-5l-dan-dfsk-glory-580-bagaimana-performanya.

“Untuk mengejar ketertinggalan teknologi motor bakar, produsen asal Cina tentu memerlukan waktu. Makanya, pengembangan mobil listrik menjadi langkah yang tepat, agar teknologi otomotif Cina bisa berkompetisi dengan produsen mobil dunia lainnya,” terang Jonfis Fandy, Marketing & After Sales Director PT Honda Prospect Motor saat obrolan santai di GIIAS 2018 lalu.

Nah, terjawab kan sob. Tapi… persaingan di dunia otomotif ini tentu menguntungkan dari sisi konsumen. Semakin beragam pilihan, membuat konsumen lebih bebas memilih sesuai bujet dan kebutuhan.

[Dhany Ekasaputra]

About Dhany Ekasaputra 137 Articles
Experience 1. Racing Driver (1999-2002) 2. Testing Driver, e.g : Lamborghini Aventador, Lamborghini Gallardo, Lotus Elise, Nissan GT-R, Nissan Juke R, McLaren 650 S, etc (2001-2015) 3. Journalist Otosport (2001-2003) 4. Journalist Auto Bild Indonesia (2003-2009) 5. Technical Editor Auto Bild Indonesia (2009-2015) 6. Instructor Safety Institute Indonesia (2014-2016) 7. Operational Manager PT OtoMontir Kreasi Indonesia (2015-2017) 8. Managing Editor aftermarketplus.id (2017- )