Untold Story Teddy Irawan Bikin Nissan Berjaya di Indonesia

Foto: Istimewa

AFTERMARKETPLUS.id – “Pasar Indonesia perlu desain Datsun untuk 7 penumpang. Urusan biaya produksi, nanti dipikirkan belakangan,” cerita Teddy Irawan saat meeting dengan prinsipal Datsun di Jepang untuk melengkapi lapisan pasar terendah dari produk Nissan Global.

Inilah puncak kesuksesan PT Nissan Motor Indonesia (NMI) di tahun 2014, setelah menjadi satu-satunya brand otomotif di Tanah Air yang memiliki tiga produk segmen pasar, dimana Datsun sebagai pilihan Low, lalu Nissan berada di segmen Medium dan Infiniti di level High. 

KELAHIRAN NISSAN GRAND LIVINA
Berbicara kesuksesan, tentu banyak cerita menarik dibalik masa keemasan Nissan di Indonesia, dimana semua berawal dari lahirnya Nissan Grand Livina di 2007.

Gosip MPV Nissan 7 seaters sudah berhembus lebih dari setahun sebelum kelahirannya. Tidak sedikit wartawan – termasuk saya – yang tertipu dengan strategi seorang Teddy Irawan. Kedekatan sosok Teddy dengan para petinggi Otomotif Group, kerap menjadi alat untuk memancing berita.

Nissan Latio 1.5 yang menjadi unit tes sebelum NMI menjualnya, dengan sengaja dipinjamkan ke beberapa orang terpercaya di kantor jalan Panjang sebagai markas Otomotif Group, meski dengan syarat, “siapa pun yang meminjam mobil ini, wajib mengisi dengan bensin jenis Premium,” terang Teddy kala itu.

Tak heran jika saat itu saya berpikir bahwa Nissan Latio nanti akan mengadopsi mesin 1.500 cc. Dan ternyata…. Nissan Latio lahir dengan mesin 1.800 cc di Indonesia.

Alhasil, mesin HR15DE yang disematkan pada Nissan Latio merupakan unit uji coba untuk meyakinkan bahwa mesin Nissan Grand Livina andal untuk mengkonsumsi bensin jenis Premium sekalipun.

Bahkan engineer Nissan menjadikan Toyota Kijang kapsul sebagai benchmark lahirnya Nissan Grand Livina, dimana proyek ini mulai berjalan sebelum kelahiran Toyota Avanza di 2003. Alhasil, teknologi immobilizer gagal disematkan hingga kelahiran All New Livina sebagai produk kembar dari Mitsubishi Xpander.

Strategi harga psikologis pun menjadi kelebihan Teddy Irawan. Harga tipe termurah – tipe SV Rp 128,7 juta – atau berselisih sekitar Rp 10 juta dari Toyota Avanza, tentu menjadi daya tarik. Apalagi tipe SV merupakan harga subsidi alias tekor, dengan pertimbangan, karakter konsumen Indonesia akan memilih tipe termahal.

Apa daya, daftar inden yang terus mengekor panjang, membuat tipe SV pun mulai disergap hingga pihak accounting berhitung kerugian. Akhirnya harga sedikit dikoreksi setelah 3 bulan peluncuran Nissan Grand Livina.

Sejak kelahiran Nissan Grand Livina inilah, kedekatan saya dengan Teddy Irawan terjalin. Unsur kepercayaan antara seorang teman dan wartawan, membuat diskusi produk bisa berjalan mulus. Bahkan terkadang, istri terheran-heran melihat waktu telepon yang bisa berjam-jam hingga tengah malam.

TRAGEDI 21,8 KM/L
Rasa aman dan percaya, membuat saya kerap diajak untuk ikut dalam tes 1.000 km sebagai bagian tahap terakhir sebelum mobil diluncurkan atau diproduksi massal.

Nissan March yang mengusung konsep irit BBM pun, menjadi perjalanan pertama saya menguji mobil 1.000 km. Rute tes Jakarta – Jogja, ternyata menjadi rute media test drive. Gak heran jika saya sangat mengetahui rute dan kerja dari komputer mesin serta transmisi untuk mendapat efisiensi terbaik. 

Angka 21,8 km/l yang tertera di majalah Auto Bild Indonesia pun menjadi klaim pihak Nissan atas efisiensi konsumsi BBM dari Nissan March. Hingga akhirnya, ada konsumen Nissan yang membawanya ke meja hijau.

Media Test Drive Nissan March terlaksana pada November 2010, bersamaan dengan meletusnya Gunung Merapi. Alhasil, beberapa awak media pun tak mengikuti acara ini hingga selesai. Saya pribadi pun memilih untuk mampir ke rumah Nenek dan pulang keesokan harinya dengan Kereta Api.

TOKYO MOTOR SHOW (TMS) 2009
Perjalanan pertama saya ke Jepang atas undangan Honda Prospect Motor (HPM), malah dititipi pesan untuk memotret Nissan NV200.

“Mumpung ke TMS, lu foto-foto Nissan NV200 deh. Nanti setelah kembali ke Jakarta, gw ceritain,” pesan Teddy saat itu.

Berbekal foto di kamera, akhirnya saya pun menagih janjinya, dan disampaikan bahwa “gw disuruh jual mobil itu di Indo,” lemes Teddy karena Nissan Indonesia tidak diikut sertakan dalam pengembangan produk NV200.

“Andai project ini terinfo sebelum Grand Livina (GL) launching, pasti harga Nissan Evalia akan gw posisikan di atasnya GL. Karena konsumen akan lebih rela membayar lebih mahal untuk mendapat kabin yang lebih luas. Paling bener Honda deh.. dari Jazz ke Freed,” ujar Teddy kembali.

“Dan yang lebih pusing lagi, fitur Nissan Evalia jauh lebih canggih dari GL. Sudah pakai smart key, padahal Serena (C24) aja belum pake. Lalu MID nya sangat lengkap dan terintegrasi dengan kamera parkir. Mesinnya sudah pake teknologi pengaturan katup ganda dan tiap silinder dipasok 2 injektor,” tambah Teddy.

Nah kebayangkan, dari 2009 sampai Evalia lahir di Juni 2012, saya harus menjaga rahasia ini. Gatel banget pengen ditulis, tapi…  Hehehe…

Lagi-lagi, saya mendapat kesempatan untuk menguji 1.000 km sebelum Media Test Drive kembali. Tapi cerita menariknya adalah bagaimana engineer Nissan meracik suspensi dengan per batang agar terasa nyaman.

Teddy pun menceritakan bahwa saat pertama kali di tes, suspensi gak ubahnya seperti gerobak dan terbukti saat saya mencoba taksi Nissan NV200 saat Nissan 360 di Amerika – 2013. Lalu Nissan Jepang mengirim beberapa sampel per untuk diuji coba. Setelah kita memilih, barulah mereka datang ke Indonesia untuk fine tuning.

STRATEGI HARGA DAN INSTING KUAT
Seperti spekulasi harga Nissan Grand Livina, strategi harga juga terjadi saat Nissan Latio diluncurkan di IIMS 2004. Hingga hari pertama pameran, harga Nissan Latio belum rilis ke tim Sales. Ternyata, seorang Teddy Irawan tengah menunggu pengumuman harga Mazda 3 dari booth yang tak jauh dari booth Nissan.

“Saya sudah ada 3 harga di kantong. Setelah diumumkan, baru saya infokan harga ke tim Sales,” senyum Teddy saat bercerita hal tersebut.

Hal ini pun terus berlanjut saat peluncuran Nissan Livina X-Gear. Sesama grup Indomobil, Suzuki pun tengah merilis SX-4. Teddy Irawan dan Bebin Djuana pun saling berkomunikasi via telepon, sambil saling bercanda mengenai harga.

Media test drive yang dilaksanakan berbarengan, membuat para jurnalis juga saling menunggu harga dari masing-masing produk sekelas ini, meski akhirnya keduanya menunda pengumuman harga.

Satu yang saya kagum dari seorang Teddy Irawan adalah insting dalam mencium sebuah masalah, yakni ketika tragedi Nissan Juke terbakar. Insting seorang Teddy bahwa akan ada masalah besar langsung direspon cepat dengan mengirim email ke prinsipal di Jepang untuk segera mengirim tenaga ahli Nissan Jepang ke Indonesia.

Setidaknya, inilah sepenggal cerita seru dari alm. Teddy Irawan, meski ada cerita lain yang lebih didasari unsur pertemanan ketimbang sebagai nara sumber.

Terima kasih pak Teddy atas segala kebaikannya selama ini dan smoga seluruh keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

[Dhany Ekasaputra]

About Dhany Ekasaputra 226 Articles
Experience 1. Racing Driver (1999-2002) 2. Testing Driver, e.g : Lamborghini Aventador, Lamborghini Gallardo, Lotus Elise, Nissan GT-R, Nissan Juke R, McLaren 650 S, etc (2001-2015) 3. Journalist Otosport (2001-2003) 4. Journalist Auto Bild Indonesia (2003-2009) 5. Technical Editor Auto Bild Indonesia (2009-2015) 6. Instructor Safety Institute Indonesia (2014-2016) 7. Operational Manager PT OtoMontir Kreasi Indonesia (2015-2017) 8. Managing Editor aftermarketplus.id (2017- )