6 Fitur Kurang Bermanfaat di Indonesia

Foto: Istimewa

AFTERMARKETPLUS.id – Kelengkapan fitur kerap menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih mobil. Tapi… ternyata ada lho, beberapa fitur yang kurang bermanfaat saat diadopsi di Indonesia. Apa saja fitur tersebut?

1. Sun/Moon-Roof
Kesan mewah akan langsung diperoleh saat mobil memiliki fitur ini. Tapi dengan iklim tropis seperti di Indonesia, sun/moon-roof menjadi kurang berguna, mengingat panasnya suhu udara atau polusi udara yang membuat kabin menjadi tidak nyaman.

Andaikata digunakan pun, hanya sesekali, seperti saat pelesir ke pegunungan. Tapi… itupun masih dalam hitungan jari dalam penggunaan selama sebulan atau bahkan setahun.

2. Cruise control

Fitur ini kini mulai marak diadopsi oleh produsen mobil. Fungsinya sebagai pengatur kecepatan konstan sehingga pengemudi tak perlu lagi menekan pedal gas unuk mempertahankan kecepatan kendaraan.

Tapi… kondisi lalu lintas yang cenderung padat serta kecepatan yang tidak konstan, membuat cruise control menjadi sangat jarang digunakan. Jadi mubazir kan sob?

3. Defogger

Peran utama fitur ini adalah untuk menghilangkan embun di kaca. Dahulu, fitur ini sangat bermanfaat dikala AC belum menjadi kelengkapan standar mobil.

Nah… kebayangkan sob? Adakah pemilik mobil yang kini enggan menggunakan AC? Artinya defogger di kaca belakang kini kurang berguna, karena embun tidak mungkin hadir saat AC di kabin bekerja.

4. Heater

Umumnya, fitur ini hadir di mobil yang didatangkan langsung dari Eropa atau dirancang untuk konsumen di negara 4 musim.

Jadi saat digunakan di iklim tropis, tentu heater atau pemanas kabin menjadi kurang bermanfaat.

5. Automatic Air Circulation Control

Fitur ini berguna untuk menjaga agar kandungan oksigen di interior tetap terjaga sehingga pengemudi dan seluruh penumpang tetap merasa segar meski berlama-lama di dalam kabin.

Jadi melalui fitur ini, udara luar dapat masuk melalui sirkulasi terbuka secara berkala.

Apesnya, polusi udara sudah menjadi bagian kota-kota besar di Indonesia. Artinya, penerapan fitur ini menjadi sia-sia, lantaran bukan udara segar yang masuk, malah polutan seperti asap knalpot yang akan masuk ke dalam kabin.

6. Smart City Brake System

Tujuan penerapan fitur ini lebih kepada meminimalkan kelalaian pengemudi saat di kemacetan. Dengan menggunakan sensor, mobil dapat berhenti secara otomatis saat melaju di kecepatan rendah (di bawah 30 kmjam) ketika di kemacetan – tanpa perlu pengemudi menginjak pedal rem.

Tapi dengan habit pengguna lalu lintas di Indonesia – terutama pengendara motor – fitur ini dapat menyebabkan terjadinya tabrakan beruntun.

Kebayangkan? Saat ada motor memotong mobil yang dilengkapi sensor ini, otomatis akan langsung berhenti sehingga rentan membuat kaget pengemudi di belakangnya.

[Dhany Ekasaputra]