Beda Teknologi Hybrid dengan Plug In Hybrid

Foto: aftermarketplus.id

AFTERMARKETPLUS.id – Pemerintah melalui PerPres No.15 2019 mulai menyiapkan infrastruktur untuk meningkatkan penjualan mobil berbasis listrik di Indonesia. Teknologi Hybrid dan Plug in Hybrid menjadi solusi tepat dalam masa transisi ini.

Pasalnya, dengan teknologi hybrid, artinya masih ada motor bakar (Internal Combution Engine) yang masih menggunakan bahan bakar fosil untuk menyuplai listrik ke baterai jika diperlukan.

Toyota pun mulai mengenalkan teknologi Hybrid di Indonesia sejak tahun 2009 di Toyota Prius.

Dalam Toyota Electrified Vehicle Journalist Test Drive yang menempuh rute Banyuwangi, Jawa Timur – Denpasar, Bali, OtoPintar pun mencoba untuk mengulik kinerja dari lini produk Toyota Hybrid dan PHEV yang diwakilkan oleh Toyota Prius.

TOYOTA PRIUS PHEV
Sebagai produk yang belum di jual di Indonesia ini, OtoPintar dapat merasakan sensasi berkendara yang begitu fun to drive. Tak ada kata lamban saat menggunakan Toyota Prius PHEV dengan mode berkendara Normal, selain pilihan Eco dan Power.

Akselerasi begitu spontan sehingga bisa melakukan aksi menyalip dengan begitu mudahnya. Hal ini dikarenakan karakter dari motor listrik yang begitu kuat untuk berakselerasi.

Toyota Prius PHEV dapat digunakan dalam mode EV alias tanpa menggunakan motor bakar. Dalam mode ini, mobil dapat kami pacu hingga kecepatan 130 km/jam, namun karena kondisi jalan, kami hanya mampu mencatat angka 100 km/jam.

“Salah satu keunggulan Toyota Prius PHEV adalah peran penggunaan motor listrik kini lebih dominan ketimbang motor bakarnya,” terang Anton Jimmy Suwandy, Marketing Director PT Toyota Astra Motor.

Setelah indikator baterai Lithium Ion berkapasitas 8,8 kWh menyisakan 1 bar, mesin motor bakar pun langsung bekerja sebagai generator untuk mengisi baterai kembali.

Bahkan jika ingin pengisian baterai lebih cepat, pengendara dapat memindahkan tuas transmisi ke posisi B sehingga putaran mesin berkapasitas 1.798 cc ini meningkat, sekaligus memberikan efek seperti engine brake di mesin konvensional.

Mesin motor bakar 4-silinder dengan kode 2ZR-FXE ini mampu menghasilkan tenaga sebesar 98 PS dan dua motor listrik akan menyumbangkan tenaga sebesar 31 PS (40Nm) dan 72 PS (163 Nm). Wajar jika kemampuan akselerasi begitu kuat.

Karena konsepnya Plug-in, otomatis baterai dapat diisi menggunakan daya listrik dari rumah atau charging station saat mobil berhenti.

Performa Toyota Prius PHEV pun turut diperoleh dari desain bodi yang begitu aerodinamis. Dengan nilai hambatan hanya 0.25 cd. Hal ini terlihat dari bentuk kap mesin, desain atap yang melandai hingga lekukan di kaca belakang hingga area buritan. Plus bobotnya hanya 1.526 kg.

TOYOTA COROLLA ALTIS HYBRID
Sebagai pembanding, OtoPintar memilih Toyota Corolla Altis yang mengadopsi mesin berkapasitas serupa. Bedanya, baterai Nickel Metal Hydride berkapasitas 1,3 kWh hanya dapat diisi via mesin bensin. Artinya, jauh lebih kecil kapasitasnya ketimbang Prius PHEV.

Alhasil, mode berkendara EV tak dapat digunakan 100%. Saat pengemudi menginjak pedal gas agak dalam atau kecepatan melebihi 40 km/jam, mesin bensin akan langsung bekerja untuk membantu Corolla Altis Hybrid melaju. 

Karena kapasitas baterai yang lebih kecil, membuat proses pengisian dapat berlangsung lebih cepat. Apalagi ketika di jalan menurun dan menggunakan efek engine brake sehingga putaran mesin menjadi lebih tinggi.

Kemampuan menyalip pun masih tetap mumpuni, meski tidak sekuat Toyota Prius PHEV. Hal ini bisa terpantau tenaga dari penggabungan kedua motor penggerak, mencatat angka 123 PS dengan torsi sebesar 142 Nm.

Tapi karena Toyota Corolla Altis Hybrid ini menggunakan profil ban tipis berukuran 225/45R17, membuat akurasi kemudi menjadi lebih tajam. Plus dipadu dengan bobot 1.460 kg.

KESIMPULANNYA
Toyota Prius PHEV lebih menyerupai mobil listrik alias Electric Vehicle, namun diberi mesin agar lebih fleksibel saat digunakan konsumen. Tak heran jika emisi gas buangnya menjadi sangat rendah dengan angka 28 gr CO2/km.

Sedangkan Toyota Corolla Altis Hybrid merupakan mobil konvensional yang ditambahkan motor listrik agar kinerjanya menjadi lebih efisien. Wajar jika emisi gas buangnya lebih tinggi dari Prius PHEV dengan angka 83 gr CO2/km. 

[Dhany Ekasaputra]

About Dhany Ekasaputra 205 Articles
Experience 1. Racing Driver (1999-2002) 2. Testing Driver, e.g : Lamborghini Aventador, Lamborghini Gallardo, Lotus Elise, Nissan GT-R, Nissan Juke R, McLaren 650 S, etc (2001-2015) 3. Journalist Otosport (2001-2003) 4. Journalist Auto Bild Indonesia (2003-2009) 5. Technical Editor Auto Bild Indonesia (2009-2015) 6. Instructor Safety Institute Indonesia (2014-2016) 7. Operational Manager PT OtoMontir Kreasi Indonesia (2015-2017) 8. Managing Editor aftermarketplus.id (2017- )