Buat Up Grade Performa, Pilih Pasang Piggyback atau Ganti ECU yaa?

Foto: aftermarketplus.id

AFTERMARKETPLUS.id – Gak sedikit lho, pemilik motor yang bingung mau up-grade performa. Pilih pasang piggyback atau ganti ECU stand alone yaa?

Jawabannya adalah ‘dusta’ jika ada yang bilang, ganti ECU bisa meningkatkan tenaga mesin lebih besar dari pasang piggyback. Karena tenaga mesin akan berbanding lurus dengan Air Fuel Ratio (AFR).

Lalu, apa keunggulan ECU stand alone yang cenderung harganya lebih mahal dari piggyback dong? Ini jawabannya sob…

Piggyback

Fungsi utama dari piggyback adalah alat penipu. Jadi piggyback merupakan alat tambahan sehingga tetap memerlukan ECU standar.

Cara kerja alat penipu ini ada dua. Pertama menipu info dari sensor yang masuk ke ECU, seperti yang diterapkan pada Open Looper. Kedua dengan cara menipu perintah ECU yang menuju injektor seperti Fuel Control Speed Sparks, Equteche dan lainnya.

IMG-20180823-WA0010

Cara pertama yang dilakukan Open Looper, tentu membuat semprotan bensin di injektor bertambah secara merata di seluruh rentang putaran mesin alias rpm. Jadi, jika mapping dari ECU standar dibuat lean di rpm rendah, lalu middle (cukup) di rpm tengah dan lean kembali di rpm atas dari pabrikannya, otomatis semuanya akan berubah menjadi middle di rpm bawah dan atas, tapi rich di rpm tengah saat menggunakan Open Looper.

Sedangkan cara kedua dapat dilakukan lebih detail lagi. Kekurangan detail pada open looper, diperbaiki pada Fuel Controler, lantaran mampu mengubah jumlah semprotan bensin di injektor yang terbagi menjadi tiga area; low rpm, middle rpm dan high rpm. Artinya, setup kebutuhan bensin di ruang bakar jadi bisa lebih sesuai.

Tapi pemasangan Fuel Controler di motor injeksi modern, wajib dipadukan dengan open looper. Karena komputer modern telah menganut sistem close loop, jadi gas buang tetap dikontrol sehingga saat terdapat AFR menjadi rich, ECU akan mengurangi suplai bensin secara otomatis.

ECU Stand Alone

Ganti ECU, otomatis membuat ECU standar dilepas dan diganti ECU yang memiliki beragam pengaturan yang berhubungan dengan kinerja mesin di ruang bakar.

Jadi tak hanya mengatur debit bahan bakar, waktu pengapian pun dapat diubah. Bahkan limiter, fuel acccelation, injector timing, idle rpm, pemundur waktu pengapian saat mesin overheat dan lainnya. Asyik kan sob?

IMG-20180823-WA0012

Tapi semua ini jelas memerlukan keahlian sang mekanik dalam men-setting ECU. Salah setting, motor malah gak enak. Inilah sisi negatif dari ECU stand alone bagi orang awam.

Semakin detail pengaturan, otomatis diperlukan tingkat pemahaman ECU yang lebih dalam.

Sebagai pembanding, ECU Juken 5 Pro yang dilansir BRT memiliki detail pengaturan hingga per 500 rpm dengan bukaan throttle per 2 – 10%. Jika dibandingkan dengan Aracer RC Mini 5, pengaturannya lebih simple karena hanya per 2.250 rpm dan bukaan throttle per 2 – 40%.

Begitu pun dengan ignition timing. Detail yang ditampilkan juga begitu lengkap, sehingga memudahkan pemilik motor untuk mengganti jenis oktan bensin yang digunakan atau membuat karakter mesin sesuai yang diinginkan, semisal dibikin halus atau agresif.

Tenaga Mesin Tergantung AFR

Jika berbicara tenaga mesin, tentu terkoneksi dengan campuran udara – bahan bakar atau sering disebut dengan AFR (Air Fuel Ratio).

Bukan rahasia lagi jika ECU standar dengan sistem close loop dirancang untuk memberikan kadar emisi gas buang yang rendah. Alhasil, AFR akan berada direntang ideal, yakni 14,7 : 1. Bahkan saat melaju konstan, AFR bisa mencapai angka 15 : 1.

IMG-20180823-WA0011

Dan bukan rahasia lagi, jika AFR performa berada direntang 12 – 13,3 : 1. Artinya, jika AFR saat full throttle (100%) dibikin AFR performa, tentu tenaga akan meningkat secara otomatis.

Kesimpulannya, mau pake piggyback atau ganti ECU, kalo saat digas poll alias throttle terbuka 100%, AFR berada direntang performa, tentu tenaga yang dihasilkan akan mirip-mirip aja.

Perbedaan paling mencolok adalah terletak pada setup waktu pengapian. Jika dilakukan dengan tepat terutama di putaran rendah hingga menengah, otomatis akan mempermudah mesin untuk menggapai performa maksimumnya. Ini adalah soal detail yang tidak ada di piggyback pada umumnya.

[Dhany Ekasaputra]

About Dhany Ekasaputra 140 Articles
Experience 1. Racing Driver (1999-2002) 2. Testing Driver, e.g : Lamborghini Aventador, Lamborghini Gallardo, Lotus Elise, Nissan GT-R, Nissan Juke R, McLaren 650 S, etc (2001-2015) 3. Journalist Otosport (2001-2003) 4. Journalist Auto Bild Indonesia (2003-2009) 5. Technical Editor Auto Bild Indonesia (2009-2015) 6. Instructor Safety Institute Indonesia (2014-2016) 7. Operational Manager PT OtoMontir Kreasi Indonesia (2015-2017) 8. Managing Editor aftermarketplus.id (2017- )