Jurus Jitu Penggerak Roda Depan Mitsubishi Xpander Kuat Nanjak

AFTERMARKETPLUS.id – Mitsubishi SKY BRIDGE di gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018 menjadi bukti terhadap performa Mitsubishi Xpander di jalan menanjak dengan penggerak roda depannya. Apa rahasianya?

Kekuatan mesin menjadi modal pertama untuk sebuah kendaraan dalam menanjak. Mitsubishi Xpander mengandalkan mesin MIVEC berkapasitas 1.499 cc dengan tenaga maksimum 105 hp di 6.000 rpm serta torsi 141 Nm di 4.000 rpm.

Dengan bobot kendaraan sekitar 1.230 kg (asumsi pay load 550 kg), artinya Mitsubishi Xpander memiliki power to weight ratio sekitar 11,7 kg/hp – semakin kecil angka akan semakin baik performanya.

Bandingkan dengan Wuling Confero 1.5 yang memiliki tenaga 107 hp di 5.800 rpm dan bobot 1.295 kg. Artinya PWR Wuling Confero berada di angka 12,1 kg/hp.
Modal kedua dalam hal kemampuan menanjak adalah rasio gir di transmisi.

Mitsubishi Xpander mengadopsi rasio gear gigi 1 adalah 3,818 dipadu dengan final gear 4,812. Hal ini sudah cukup mumpuni untuk sebuah kendaraan.

Bandingkan dengan mobil-mobil berpenggrak belakang sekalipun seperti Wuling Confero dengan komposisi gir rasio 1 / final gear gardan (3,729/4,889) atau Toyota Avanza 1.5 (3,769/4,875).

Nah… artinya bukan masalah mesin dan transmisi kan?? Untuk mengukur kekuatan mobil dalam hal menanjak.

Masalah utama dalam hal menanjak lebih kepada kemampuan traksi ban.

Beruntungnya mobil berpenggerak roda belakang adalah bobot kendaraan akan berada di belakang saat di jalan menanjak. Efeknya, hal ini kian memberikan traksi maksimal pada ban roda penggerak.

Kondisi terbalik terjadi dengan mobil berpenggerak roda depan. Semakin berat bobot mobil dengan penumpang + barang, otomatis traksi ban roda depan kian minim. Itulah masalah klasik mobil berpenggrak roda depan saat di jalan menanjak.

Apalagi jika ditambah dengan kemampuan pengemudi yang cenderung panik saat kondisi seperti ini. Filing pengemudi dalam menjaga traksi ban kian minim, sehingga ban cenderung spin atau saat ban mendapat traksi, mesin langsung mati.

Solusi pertama adalah pengemudi ‘jangan panik!’. Lalu untuk memperoleh traksi optimal, tekanan angin ban depan dapat dikurangi sekitar 5 psi dari rekomendasi pabrik ketika melewati rute menanjak – jangan berlebihan karena akan membebani tenaga mesin.

Solusi kedua adalah memilih mobil yang memiliki fitur traction control. Dengan fitur ini, komputer akan mengatur tenaga yang tersalur ke roda agar tidak mengalami spin.

Caranya dengan menutup throttle agar power mesin menurun sehingga ban kembali mendapat traksi kembali.

Tapi dalam beberapa kondisi, respon dari fitur ini akan menghilangkan momentum pergerakan mobil. Sehingga, lagi-lagi ‘skill driver’ lebih menentukan dalam kondisi seperti ini.

Kesimpulannya, menjaga traksi ban menjadi kunci utama dalam kemampuan menanjak sebuah kendaraan. Karena performa mesin dipadu transmisi, cenderung slalu mumpuni, selama kondisi komponen baik.

[Dhany Ekasaputra]

About Dhany Ekasaputra 140 Articles
Experience 1. Racing Driver (1999-2002) 2. Testing Driver, e.g : Lamborghini Aventador, Lamborghini Gallardo, Lotus Elise, Nissan GT-R, Nissan Juke R, McLaren 650 S, etc (2001-2015) 3. Journalist Otosport (2001-2003) 4. Journalist Auto Bild Indonesia (2003-2009) 5. Technical Editor Auto Bild Indonesia (2009-2015) 6. Instructor Safety Institute Indonesia (2014-2016) 7. Operational Manager PT OtoMontir Kreasi Indonesia (2015-2017) 8. Managing Editor aftermarketplus.id (2017- )