Ketika Rasa Adalah Segalanya, Inilah Kenyataannya… Jangan Asal Ganti Berat Roller Jika Belum Baca OtoPintar

AFTERMARKETPLUS.id – Lebih dari 80% pasar motor di Indonesia, sudah dikuasai oleh motor matik. Artinya, tren modifikasi pun akan mengarah ke motor matik yang menggunakan CVT. Tak heran jika bengkel modifikasi kerap mengutak-atik area CVT agar transfer tenaga ke roda kian optimal.

Salah satunya adalah mengganti berat roller, dari memperingan bobot roller, hingga mengadopsi bobot roller berselang-seling, seperti di Yamaha NMax yang mengkombinasi 3 roller 9/10 gr dan 3 roller 11/12 gr atau bahkan sekarang tengah tren 2 roller berat 9/10 gr dipadu dengan 4 roller 11/12 gr.

Sebuah langkah efektif secara rasa, namun kurang mengakomodir dalam hal daya tahan komponen, mengingat roller terberat akan mendapat beban berlebih untuk mendorong puli akibat gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh putaran mesin.

Belum lagi dengan data hasil dyno test, yang kerap menahan di rpm tertentu saat mesin mencapai tenaga puncaknya, jika bobot roller diselang-seling.

BERAT ROLLER LEBIH RINGAN

Tak dapat dipungkiri, jika mengganti berat roller yang lebih ringan akan membuat akselerasi membaik, namun kehilangan momentum saat dikecepatan tinggi. Hal ini didasari atas gaya sentrifugal yang dihasilkan roller berbobot lebih ringan dari standarnya untuk menahan di rasio puli primer yang kecil. 

Apalagi jika dipadu dengan per CVT yang lebih keras, otomatis rasio puli depan akan tertahan di posisi kecil – ibarat naik sepeda, Sobat mengayuh pedal dengan gir kecil di depan dan gir besar di belakang. Mesin akan merasa ringan sehingga putaran mesin akan meningkat sehingga akselerasi membaik. 

Cirinya, putar gas hingga pol dari kecepatan rendah atau diam – jika menggunakan takometer – perhatikan putaran mesinnya. Roller ringan akan membuat rpm meraung hingga lebih dari 8.000 rpm – tergantung lebih ringan hingga berselisih berapa gr dari berat roller standarnya.   

Sekadar info, umumnya motor matik memiliki tenaga puncak dikisaran 8.000 rpm, seperti Yamaha NMax, FreeGo atau Honda Vario 150 yang beradai diangka 8.500 rpm. Gak heran jika akselerasi terasa oke, lantaran mesin berkitir diarea tenaga maksimumnya. 

Jika sobat mencari performa dari sebuah motor matik, ini merupakan langkah yang tepat – meski jika melewati dari tenaga puncak, otomatis grafik tenaga mesin pun sudah mulai menurun…😁😁😁

Wajar jika produsen motor selalu mencari agar putaran mesin berada di torsi maksimal alias sekitar 6.000 rpm. Hal ini didasari agar efisiensi konsumsi BBM tetap optimal. 

PILIHAN UNTUK MESIN BORE-UP

Langkah pertama adalah mencari tau posisi tenaga dan torsi puncak mesin telah bergeser kemana via dynotest. Setelah dipahami, silahkan mencoba berat roller yang diinginkan.

Sebagai contoh, tenaga puncak Yamaha NMax bore up beradai di 7.600 rpm dan torsi maksimal di 7.000 rpm. Nah, Sobat tinggal cari komposisi berat roller agar saat gas poll, putaran mesin akan langsung kelempar di area rpm tersebut. 

Jika ingin ke arah performa, cari yang berat rollernya diangka 7.600 rpm. Jika ingin tetap efisien, tinggal cari berat yang cocok untuk menggapai 7.000 rpm. Silahkan bermain di bobot roller dan kekerasan per CVT. 

Sebagai panduan, semakin ringan bobot roller akan semakin baik akselerasi, begitu pun dengan kekerasan per CVT, jika semakin keras, maka akselerasi akan semakin baik. 

Selamat mencoba…

[Dhany Ekasaputra]

About Dhany Ekasaputra 215 Articles
Experience 1. Racing Driver (1999-2002) 2. Testing Driver, e.g : Lamborghini Aventador, Lamborghini Gallardo, Lotus Elise, Nissan GT-R, Nissan Juke R, McLaren 650 S, etc (2001-2015) 3. Journalist Otosport (2001-2003) 4. Journalist Auto Bild Indonesia (2003-2009) 5. Technical Editor Auto Bild Indonesia (2009-2015) 6. Instructor Safety Institute Indonesia (2014-2016) 7. Operational Manager PT OtoMontir Kreasi Indonesia (2015-2017) 8. Managing Editor aftermarketplus.id (2017- )