Standar Emisi Euro 4 Bikin Mesin Semakin Tidak Bertenaga

Foto: Istimewa

AFTERMARKETPLUS.id – Standar emisi Euro 4 bikin mesin semakin tidak bertenaga. Engineer pun perlu putar otak agar mampu mengoptimalkan kinerja mesin dari beragam komponen di mobil. Tujuan akhirnya adalah memasukan bahan bakar sedikit mungkin ke dalam ruang bakar.

ERA INJEKSI

Diawal 1990-an, teknologi injeksi mulai diperkenalkan di Indonesia. Toyota Corolla GTi menjadi produk umum pertama yang dikenal konsumen di era ini. Lalu Honda Civic Genio/Estilo menggusur karbu di generasi Grand Civic di tahun 1992.

Penerapan teknologi injeksi, jelas membuat mesin lebih bertenaga di setiap rentang rpm namun efisien ketimbang pasokan bahan bakar karburator.

STANDAR EURO 2

Baru di 2007, Pemerintah mewajibkan standar emisi Euro 2 untuk seluruh produk yang dijual di Tanah Air. Alhasil, Suzuki Karimun ‘kotak’ dan Nissan Terrano yang masih mengandalkan pasokan bahan bakar karbu, harus discontinue.

Selain pasokan bahan bakar wajib injeksi, sistem komputer pun diubah dari Open Loop ke Close Loop. Dengan sistem Close Loop, hasil gas buang pun turut dipantau. Jika campuran bahan bakar – udara (Air Fuel Ratio – AFR) terlalu rich, maka komputer akan mengurangi semprotan bahan bakar di injektor. Begitu pun sebaliknya.

Penerapan Catalytic Converter (CC) menjadi menu wajib agar standar emisi Euro 2 dapat tercapai. Begitu pun dengan penerapan distributor less alias gak pake lagi distributor – jadi koil berada langsung di atas busi.

Bahan bakar pun menuntut bensin tanpa timbal dengan kadar kandungan Sulfur maksimal 500 ppm untuk bensin dan diesel. Kilang Pertamina pun disiapkan untuk memproduksi bahan bakar tuntutan mesin berstandar Euro 2.

Tapi diwaktu yang bersamaan di Eropa, standar Emisi telah mencapai Euro 4. Alhasil, mayoritas produsen mobil yang memiliki kepentingan penjualan di belahan Eropa terus mengembangkan teknologi mesinnya agar suplai bahan bakar ke ruang bakar kian sedikit.

Teknologi katup variabel pun menjadi senjata berikutnya agar kinerja mesin kian efisien. Wajar jika nama-nama seperti VTEC, MIVEC, Vanos, CVTC, VVT-i dan lainnya menjadi teknologi yang dibanggakan produsen mobil. Bahkan Nissan Grand Livina mengadopsi prinsip variabel intake dengan memperkecil lubang saluran masuk, plus penerapan dual injector agar bahan bakar kian mudah terbakar.

Kemudian berlanjut ke teknologi throttle by wire alias tanpa kabel gas lagi. Jadi bukaan skep di Throttle Body (TB) diatur langsung oleh komputer. Produk aftermarket Throttle Control pun menjadi komoditi pemilik mobil yang ingin berkendara agresif.

STANDAR EURO 4

Oktober 2018, standar Euro 4 resmi diberlakukan di Indonesia. Apesnya, bahan bakar yang mendukung program ini hanya dapat diperoleh pada Pertamax Turbo (RON98), lantaran standar Euro 4 memerlukan kandungan Sulfur maksimal 50 ppm dengan minimum RON91.

Sebagai informasi Pertalite (RON90) dan Pertamax (RON92) memiliki kandungan Sulfur standar Euro 2, yakni 500 ppm. Sedangkan Bio Solar memiliki kandungan Sulfur 1.500 ppm – klaim Lemigas, lalu DEX Lite 1.200 ppm dan PertaDEX 300 ppm.

Karena sejatinya, standar Euro 4 memerlukan lubang injector yang sangat kecil agar proses pengabutan kian sempurna. Jika kandungan Sulfur tinggi, otomatis akan menyumbat injektor tersebut.

Tak hanya itu, sensor oksigen pun kembali ditambahkan setelah Catalytic Converter agar kinerja mesin kian presisi. Posisi CC pun dibuat sedekat mungkin dengan lubang exhaust agar panas mesin cepat mengaktifkan CC dalam mereduksi emisi gas buang.

Teknologi direct injection pun mulai diperkenalkan Mazda pada CX-5. Dengan menerapkan injektor di dalam ruang bakar, membuat semprotan bensin kian minim, lantaran bensin baru diinjeksikan sesaat sebelum busi dipercikan.

Jauh sebelum produsen Jepang menggadopsi mesin berkapasitas mungil, pabrikan Eropa sudah mulai mengembangkan, seperti yang digunakan Volkwagen pada Golf 1.4 TSI. Teknologi yang menggabungkan direct injection + turbochager kini menjadi solusi efektif untuk terus mengikuti tuntutan standar Emisi yang kini telah mencapai Euro 6.

Dengan semakin sedikit bahan bakar yang dimasukan ke ruang bakar, secara otomatis membuat AFR kian lean. Bahkan jika angka AFR ideal berada di 14.7:1, mesin modern saat ini sudah dapat bekerja diangka 15:1 atau bahkan lebih. Sedangkan AFR performa berada di angka 12,5-13,5:1.

Tak heran, jika mesin modern memiliki suhu lebih panas akibat AFR yang sangat lean ini. Cooling system menjadi perhatian serius produsen mobil dengan merancang gril berukuran besar sehingga udara segar dapat lebih mudah diperoleh dalam mejaga mesin tetap berada di suhu kerjanya.

Jadi kebayang kan Sob? Bagaimana mau mendapat mesin performa tinggi, jika campuran bahan bakar – udara dibuat semiskin (lean) mungkin agar mampu lolos standar Emisi Euro…

[Dhany Ekasaputra]

About Dhany Ekasaputra 154 Articles
Experience 1. Racing Driver (1999-2002) 2. Testing Driver, e.g : Lamborghini Aventador, Lamborghini Gallardo, Lotus Elise, Nissan GT-R, Nissan Juke R, McLaren 650 S, etc (2001-2015) 3. Journalist Otosport (2001-2003) 4. Journalist Auto Bild Indonesia (2003-2009) 5. Technical Editor Auto Bild Indonesia (2009-2015) 6. Instructor Safety Institute Indonesia (2014-2016) 7. Operational Manager PT OtoMontir Kreasi Indonesia (2015-2017) 8. Managing Editor aftermarketplus.id (2017- )