Ternyata Transmisi Otomatis Memiliki Beragam Cara Kerja Lho!

Foto: Istimewa

AFTERMARKETPLUS.id – Penjualan mobil dengan transmisi otomatis terus meningkat lantaran tingkat kemacetan yang semakin parah. Tapi ternyata transmisi otomatis memiliki beragam cara kerja lho!

Sebelum membahas lebih dalam, ide dasar dari transmisi otomatis adalah meniadakan pedal kopling di mobil. Tujuannya jelas, untuk memberi kenyamanan lebih bagi pengemudi tanpa perlu repot memindahkan posisi gigi saat terjadi percepatan atau perlambatan laju kendaraan.

Teknologi ini pertama kali ditemukan pada 1948 dengan prinsip kerja yang sangat sederhana. Perpindahan gigi dilakukan dengan mengandalkan tekanan fluida dari pompa hidrolik berdasarkan putaran mesin.

Tanpa kehadiran elektronik membuat transmisi otomatis memiliki performa yang sangat jauh dengan transmisi manual. Perpindahan gigi berdasarkan putaran putaran mesin membuat efek ‘engine brake’ minim terjadi dan kemampuan untuk menyalip menjadi lebih sulit lantaran posisi gigi akan pindah saat rpm yang telah ditentukan. Namun di Amerika, transmisi ini justru digemari lantaran kontur jalan lurus dan panjang.

Tak heran, jika produsen mobil di negara Paman Sam ini menggemari mesin berkapasitas besar untuk mereduksi kelemahan dari transmisi ini. Perpaduan kapasitas mesin besar dan transmisi otomatis dengan slip yang tinggi, membuat produsen asal Amerika ini terkenal dengan mobil boros BBM.

Dampak nya, mobil bertransmisi otomatis saat itu tidak digemari oleh mayoritas konsumen. Wajar jika harga mobil bekas bertransmisi matik menjadi lebih murah ketimbang transmisi manual.

Bahkan penulis pun pernah merasakan sensasi transmisi matik ‘kuno’ ini di era 80-an dengan Honda Accord. Meski tidak merasakan langsung dibalik kemudi, tapi alm. ayah selalu mengeluh saat hendak menyalip kendaraan lain di depannya. Perlu membangun momentum dengan mengambil ‘ancang-ancang’ terlebih dahulu sebelum menyalip.

Tapi kini, teknologi transmisi otomatis telah berkembang pesat. Dengan sistem elektronik yang canggih dan pengaturan via komputer, membuat respon transmisi matik dalam menyalurkan tenaga mesin ke roda kian membaik. Saking canggihnya, bahkan komputer transmisi kini dapat membaca karakter pengemudi dan meresponnya via transmisi otomatis.

Apa saja ragam transmisi matik di era modern ini?

1. AUTOMATIC TRANSMISSION 4-SPEED

Model ini merupakan transmisi yang masih digunakan di era modern. Transmisi ini mengadopsi torque converter yang dipadu dengan gear ratio terbatas alias 4-speed.

Pasalnya, komposisi ini membuat transfer tenaga mesin ke roda menjadi kurang efisien. Torque converter sendiri sudah menghasilkan gejala slip yang cukup besar dan ditambah rasio gir terbatas sehingga perlu putaran mesin lebih tinggi agar proses akselerasi optimal.

+ : Daya tahan sudah teruji

– : Gejala slip paling besar, entakan saat perpindahan gigi, performa akselerasi dan konsumsi BBM

2. AUTOMATIC TRANSMISSION MULTI SPEED

Nah jenis ini merupakan pengembangan dari matik konvensional. Dengan rasio gear lebih banyak, otomatis beban untuk memutar roda kian ringan, meski konsekuensinya adalah bobot yang lebih berat.

IMG-20180627-WA0043

Analoginya seperti rasio gir di sepeda. Tanpa rasio gir atau rasio gir terbatas, Anda akan kerepotan saat menemukan kontur jalan menanjak atau ingin melaju kencang. Tak heran bila sepeda saat ini banyak yang memiliki rasio gir hingga 11-speed di roda belakang. Efeknya, Anda dapat menyesuaikan tenaga dengan kondisi atau kebutuhan.

+ : Beban kerja torque converter lebih ringan, mengurangi entakan saat perpindahan gigi

– : Bobot transmisi, dimensi besar

3. CONTINOUS VARIABLE TRANSMISSION

Tetap menggunakan torque converter, namun beban kerjanya kian ringan. Pasalnya, transmisi jenis ini tak lagi menggunakan gear, tapi menggunakan puli yang terkoneksi dengan sebuah belt untuk mencari komposisi rasio yang jauh lebih fleksibel. Dengan kata lain, 1.000 rasio gear pun dapat diadopsi dengan CVT.

Dimensi transmisi pun dapat dibuat kian kompak. Bahkan Nissan terbaru telah mengadopsi dua planetary gear untuk kian mereduksi dimensi transmisi namun memiliki rentang rasio yang lebih lebar lagi ketimbang CVT dengan satu planetary gear.

+ : Akselerasi terasa halus, dimensi kompak, konsumsi bbm, beban kerja torque converter sangat ringan

– : Masih menggunakan torque converter, daya tahan, perawatan mahal

4. DUAL CLUTCH TRANSMISSION

Teknologi ini telah menanggalkan kerugian slip berlebih pada torque converter. Dengan kata lain, teknologi dual clutch (kopling ganda) ini merupakan pengembangan dari transmisi manual yang dibuat menjadi matik.

Berbeda dengan ketiga jenis transmisi di atas, meski beberapa produsen mobil menyediakan pilihan mode perpindahan gigi secara manual atau via tuas transmisi, namun ia tetap lah transmisi matik dengan torque converter yang memiliki tingkat slip yang tidak sebaik kopling di transmisi manual.

IMG-20180627-WA0064

Sesuai namanya kopling ganda, transmisi ini menggunakan dua kopling di dalam transmisi nya. Kedua kopling ini bekerja secara berkesinambungan. Maksudnya, setiap kopling akan melayani rasio gir yang berbeda. Dengan kata lain, saat gigi 3, kopling kedua akan mempersiapkan untuk gigi 4 sehingga waktu perpindahan gigi dapat berlangsung lebih cepat.

Untuk torsi maksimal di bawah 250 Nm, kopling kering masih dapat diadopsi kopling ganda ini. Tapi di atas itu, kopling perlu dibasahi oli agar suhu kerjanya tetap stabil.

+ : Perpindahan gigi sangat cepat,

 – : Kurang heavy duty, dimensi

5. AUTOMATED MANUAL TRANSMISSION

Versi paling simpel adalah jenis AMT. Transmisi ini merupakan versi manual yang benar-benar dibuat otomatis. Artinya, tetap mengadopsi kopling kering layaknya transmisi manual.

IMG-20180627-WA0065

Tapi untuk menekan pedal kopling agar koneksi dari mesin ke roda terputus diganti kan oleh motor elektrik. Tak heran bila perpindahan giginya menjadi lebih lambat akibat motor listrik perlu waktu untuk me-release kopling.

+ : Minim slip, perawatan murah

– : Perpindahan gigi lamban

[Dhany Ekasaputra]

About Dhany Ekasaputra 140 Articles
Experience 1. Racing Driver (1999-2002) 2. Testing Driver, e.g : Lamborghini Aventador, Lamborghini Gallardo, Lotus Elise, Nissan GT-R, Nissan Juke R, McLaren 650 S, etc (2001-2015) 3. Journalist Otosport (2001-2003) 4. Journalist Auto Bild Indonesia (2003-2009) 5. Technical Editor Auto Bild Indonesia (2009-2015) 6. Instructor Safety Institute Indonesia (2014-2016) 7. Operational Manager PT OtoMontir Kreasi Indonesia (2015-2017) 8. Managing Editor aftermarketplus.id (2017- )