Yamaha Nmax 200 cc Goes To Mandalika, Lombok dengan Produk Master

Foto: aftermarketplus.id

AFTERMARKETPLUS.id – Yamaha Nmax old produksi 2015 ini telah mengalami peningkatan kapasitas mesin menjadi 200 cc. OtoPintar pun menguji modifikasi yang dilakukan oleh bengkel Gas Motor di bilangan Depok dengan perjalanan menuju Mandalika, Lombok PP.

MODIFIKASI MESIN

Biar gak penasaran, modifikasi Yamaha Nmax ini yang mampu berakselerasi 0-100 km/jam dalam jarak 240 meter (13.56 detik) ini telah banyak mengalami perubahan. Setidaknya bore x stroke kini menjadi 63 x 64.8 mm dengan produk lansiran BRT.

Tapi tangan dingin Togavantiarso, sang tuner Gas Motor ini turut bermain. Berat bandul kruk as BRT ditambah agar mampu menghasilkan torsi besar dan seimbang dengan berat piston.

Begitu pula dengan stang piston yang turut diganti dengan milik Yamaha Vixion agar rasio con rod tetap ideal. Plus dibalans ulang agar minim getaran.

Pengantian stang piston yang lebih panjang membuat Toga perlu memasang paking cukup tebal agar rasio kompresi statis berada diangka 10.9:1. Pemilihan rasio kompresi rendah juga didasari agar mesin tidak vampire oli.

Selebihnya, waktu bukaan katup juga diperlama dengan menggunakan kem berlabel Moto1. Sedangkan per klep tetap standar, mengingat putaran mesin tak lebih dari 8.600 rpm. Apalagi per klep standar Nmax sanggup bekerja optimal hingga mesin berkitir sampai 10.000 rpm.

Throttle body milik Suzuki GSX memiliki diameter venturi 32 mm, artinya naik 4 mm lebih besar dari ukuran standar. Jalur masuk pun menggunakan material stainless steel agar volume udara lebih banyak dan Ferrox menggusur filter standar Nmax.

Untuk ECU, Yamaha Nmax ini mengadopsi brand Aracer mini5 lantaran simpel dan stabil. Plus penggunaan sensor O2 wideband untuk membuat sistem close loop sehingga penggunaan bensin dapat dibikin efisien lataknya motor standar.

Koil Speed Sparks dipercaya pada sistem pengapiannya, berikut dengan Coil Booster agar arus listrik kian stabil. Kemudian dipadu dengan busi NGK Iridium agar percikan kian fokus di dalam ruang bakar. 

TRANSMISI

Racikan CVT, puli primer menggunakan brand UMA Racing lantaran diameternya yang lebih besar dari orisinilnya. Bearing seater digunakan agar kerja per standar CVT kian smooth. Sedangkan berat roller, akhirnya jatuh ke angka 9 gr setelah banyak percobaan.

Untuk rasio gir, OtoPintar memilik rasio 34/12 bikinan TDR. Pilihan ini didasari pada bobot rasio gir yang lebih ringan hingga 100 gr ketimbang standarnya. Plus bisa sedikit meredam akselerasi motor agar tidak terlampau liar. 

PELUMAS

Tapi untuk pelumasnya, OtoPintar memilih Master Gear Oil GL-5 yang memang dirancang untuk perlindungan maksimal terhadap gir. Plus menggunakan Master Metal Treatment yang notabene mampu membuat bearing kian licin –  berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan oleh tim Garuda dari Universitas Negeri Yogyakarta.

Untuk pelumas mesin, Master Durability SAE 10W-40 new formula dipercaya untuk mendapatkan perlindungan optimal terhadap gesekan di dalam mesin. 

REM

Mesin kencang tentu perlu diimbangi dengan sistem rem yang memandai. Kaliper rem Nissin 2 piston diadopsi sebagai rem depan dan belakang. Sedangkan piringan menggunakan brand TDR yang memiliki lubang pendinginan cukup baik.

Master rem mengadopsi jenis radial milik RCB 14 mm dan dipadu cairan rem Prestone DOT4 yang memilki titik didih hingga 265°C. Sedangkan slang rem tetap standar, agar kontrol kepakeman tetap optimal, terutama saat mengerem di tikungan. 

COOLING SYSTEM

Komponen standar masih menjadi andalan untuk menjaga mesin tetap berada di rentang suhu kerjanya. Di beragam kondisi jalan, Master Radiator Coolant mampu menjaga suhu kerja mesin berada dikisaran 74°C – 92 °C. 

Hal ini dikarenakan komposisi glycol dengan air murni berada diangka 20 : 80. Dimana glycol memiliki sifat menyimpan panas tapi dapat meningkatkan titik didih dan air murni merupakan cairan yang memiliki transfer panas terbaik. 

SUSPENSI

Berbicara handling… ini yang sebenarnya masih bisa ditingkatkan terutama di area depan. Karena sokbreker belakang tunggal Ohlins milik Honda Vario sudah menemukan komposisi terbaiknya lantaran memiliki pengaturan preload, rebound dan compression.

Pilihan penggunaan single sokbreker belakang pun akibat di’racuni’ oleh punggawa Garden Speed – Taqwa SS. Dan terbukti setelah pemakaian 6 bulan dan melakukan perjalanan Tangerang – Lombok via jalur Selatan pulau Jawa ini tak menemukan gejala limbung, baik saat manuver ke kiri atau ke kanan. 

HASILNYA…

Yamaha Nmax 200 cc ini begitu menyenangkan untuk diajak turing, lantaran power mesinnya yang pas. Tak ada kendala berarti untuk menyalip kendaraan atau truk sekalipun. Bahkan di jalan menanjak ekstrim saat menuju Geopark Ciletuh, Jawa Barat, bukaan gas tak lebih dari 50%.

Tak ayal membuat konsumsi BBM menjadi efisien dan agak di luar prediksi, mengingat saat di rute dalam kota, konsumsi bensin berada dikisaran 22-25 km/l dengan RON92, 95 atau 98.

Tapi di rute Tangerang – Banyuwangi via Pantai Selatan ini, konsumsi BBM bisa di atas 30 km/l. Bahkan saat iseng mencoba Pertalite akibat tak ada Pertamax di beberapa SPBU, hasilnya bisa mencapai 34 – 35 km/l.

Untungnya tangki bensin sudah diperbesar menjadi 9.5 liter sehingga waktu pengisian bensin bisa berada dalam rentang jarak 200 – 250 km untuk setiap pengisian full to full.

Puas? Tentu belum… karena spesifikasi ini belum sempat diukur di atas mesin dyno dan Toga pun tengah menyiapkan blok billet dengan piston berukuran 66 mm, berikut dengan silinder head + port polish yang baru…

[Dhany Ekasaputra] 

About Dhany Ekasaputra 216 Articles
Experience 1. Racing Driver (1999-2002) 2. Testing Driver, e.g : Lamborghini Aventador, Lamborghini Gallardo, Lotus Elise, Nissan GT-R, Nissan Juke R, McLaren 650 S, etc (2001-2015) 3. Journalist Otosport (2001-2003) 4. Journalist Auto Bild Indonesia (2003-2009) 5. Technical Editor Auto Bild Indonesia (2009-2015) 6. Instructor Safety Institute Indonesia (2014-2016) 7. Operational Manager PT OtoMontir Kreasi Indonesia (2015-2017) 8. Managing Editor aftermarketplus.id (2017- )