Royal Enfield Classic 350 : Baru Tapi Jadul

Foto: Aftermarketplus

AFTERMARKETPLUS.id – Menikmati sensasi berkendara motor baru dengan tampilan klasik memang memberi kenikmatan tersendiri. Melibas rute dari tengah ke pinggiran kota dan sebaliknya, hingga berkeliling di Ibukota Jakarta.

Bersama Royal Enfield Classic 350, seakan menghadirkan sesuatu yang berbeda dan sulit diucap dengan kata-kata.

RE 4Sedikit cerita sejarah, RE atau Royal Enfield menjadi produk roda dua melegenda, yang hadir sejak 1893. Namun hari jadinya ditetapkan pada tahun 1901, saat pertama kali memproduksi motor berkubikasi 239cc.

Royal Enfield merupakan merek yang berada di bawah naungan Enfield Cycle Company, Inggris. Dalam situs resminya dijelaskan, Royal Enfield terdaftar sebagai merek untuk motor, sepeda, mesin pemotong rumput dan mesin stasioner yang dibuat Enfield Cycle Company.

Seiring waktu berjalan, nama Royal Enfield kian mengemuka. Apalagi setelah motor-motornya dipakai armada perang kesatuan British Forces Motorcycle untuk bertempur. Yakni pada masa Perang Dunia I dan II di tahun 1930-1945.

Sayangnya fakta bicara lain. Tahun 1971 Royal Enfield mengalami pailit. Untung pada tahun 1955 Royal Enfield lebih dahulu berekspansi membuka cabang di India, tepatnya di Chennai.

Mereka menggandeng perusahaan lokal, Madras Motors. Disana Royal Enfield dijuluki Enfield of India.

PERNamun, gulung tikarnya Royal Enfield di Inggris memaksa semua aktifitas bisnis dan produksi dialihkan ke India. Enfield of India lantas membeli hak cipta nama Royal Enfield. Hingga kini, Royal Enfield yang dipasarkan di seluruh dunia didatangkan utuh dari India.

Kembali bicara produk, ada beberapa model RE yang dipasarkan di Tanah Air. Seperti Bullet, Classic, Rumbler dan Continental GT.

PT Distributor Motor Indonesia (DMI) memberikan kesempatan pada aftermarketplus.id untuk merasakan langsung sensasi berkendara Royal Enfield Classic 350 berkelir putih.

Mungkin kita sudah sama-sama paham. Umumnya konsumen Indonesia apabila ingin membeli produk, khususnya motor, yang pertama dilihat adalah desain dan tampilannya.

Nah kalau ngomongin tampilan, sesuai namanya RE Classic 350, jelas kental nuansa klasik. Masa iya sih?

Nih, lihat saja lampu depan bulat bertopi plat besi. Lalu lampu sein, kaca spion, tangki dan lampu belakang berbentuk bulat retro, identik motor jaman baheula alias jaman dulu (jadul).

Makin kuat ciri khas klasiknya, tahu gak sobat dari apanya? Dari warnanya lah! Tuh baluran kelirnya bikin kita ngiler melihatnya. Ada warna biru tua klasik, biru telor asin, hijau muda yang lembut dan putih. Wow…

SADELTak sabar, langsung saja ‘nyemplak’ di jok yang dilengkapi per pada bagian bawahnya. Gambaran sadel motor eranya opa dan oma. Karena joknya tebal, plus ada per dibawahnya, terasa dingin-dingan empuk sewaktu duduk diatasnya.

Jok boncenger juga dibuat bisa dibongkar-pasang loh! Jadi pengendara bebas menentukan pilihan, riding sendirian atau bawa pasangan? Asyik…

Setelah duduk, coba atur posisi riding. Kondisi setang bergaya fatbar dan pijakan kaki lumayan comfort. Sayangnya untuk pengendara dengan postur di bawah 170cm, kaki terpaksa jinjit karena ground clereance lumayan tinggi.

Wait! Melirik sedikit lebih ke bawah dari jok, ada dua kompartemen di sebelah kanan dan kiri. Apa fungsinya? Sebelah kanan sebagai rumah filter udara. Sedangkan yang kiri untuk peralatan servis darurat di jalanan atau toolkit. Oh iya, uniknya lagi dari RE Classic 350 ini, tempat penyimpanan aki dibikin terpisah. Dengan penutup kotak yang bisa dibuka menggunakan kunci kontak.

Layaknya motor klasik atau motor jadul, belum kenal yang namanya velg Casting Wheel (CW), velg bintang, velg palang, velg racing atau apalah sebutannya. Jaman dulu velg ya jari-jari. Untuk kuda besi ini, menggunakan velg jari-jari ukuran 19 inci (depan) dan 18 inci (belakang). Berbalut karet hitam bundar masing-masing ukuran 90/90 dan 110/90.

RE 3Speedometer dan odometer analog menggunakan pengukur baterai kecil, yang terpasang di sisi kanan bawahnya. Terdapat pula kunci kontak model klasik. Buat mengunci setang, ada di bawah tangki sebelah kanan dekat shockbreaker depan.

Di speedometer ada pula indikator sederhana penunjuk lampu sein, transmisi netral dan ampli baterai. Lucunya pabrikan sengaja tidak menampilkan indikator penunjuk bensin, seperti motor-motor kebanyakan saat ini. Nah loh!

Lumayan pe-er buat pengendara sekarang, karena tak bisa melihat seberapa banyak bensin tersisa di tangki berkapasitas 14,5 liter. Apalagi kalau kena macet, waduh, ampun dije…! Satu-satunya cara yang bisa diterapkan bila kehabisan bensin, adalah memutar keran bensin ke posisi RES. Agar bisa menggunakan bahan bakar tersisa di dasar tangki, untuk sampai pom bensin terdekat.

Motor seberat 187 Kg ini tampak kian kokoh karena disokong pipa bulat sebagai tulang utama sasis. Sub sasis melengkung dan terpasang dudukan sepasang shockbreaker, sebagai penopang lengan ayun. Shockbreaker belakang didesain model tabung gas, sedangkan yang depan teleskopik berkondom, membuat motor India ini makin kelihatan klasik.

Jadi jangan harap juga ada ABS pada sistem pengeremannya. RE Classic 350 hanya andalkan satu cakram 280 mm berkaliper dua piston di roda depan, dan tromol 153 mm di belakang.

RE 2Sip, tancap gass ah…, brruumm…, mudah hidup berkat tombol starter di setangnya. Langsung terdengar suara bas khas motor tua. Bermesin silinder tunggal 346cc, transmisi lima langkah, pengapian didukung dua busi layaknya kebanyakan motor-motor India.

Pihak pabrikan mengklaim tenaga yang dihasilkan sebesar 20 HP/15 kW dan torsi 28 Nm. Untuk sistem pengabutan bahan bakar masih menggunakan karburator. Setelah melaju, karakter mesinnya langsung tertebak. Power tak meledak-ledak, maklum, kan mengklaim diri ‘motor klasik’.

Kombinasi sasis, suspensi dan shockbreaker belakang cukup bikin nyaman handling Classic 350. Tak melawan ketika diajak bermanuver kesana-kemari. Suspensi juga empuk saat melahap jalanan tak mulus dan bergelombang.

Hmm, melipir dulu deh sejenak ke warung Es Kelapa terdekat. Hilangkan dahaga sambil mengingat-ngingat apa yang belum tertuang dari berkendara motor baru rasa jadul ini. Sepertinya hampir semua terulas.

Tinggal satu yang belum, harganya. Berapa ya harganya? Royal Enfield Classic 350, dibanderol dengan harga Rp72,9 juta on the road Jakarta.

Bisa dicicil juga kok, bayar down payment terendah Rp15 juta. Dengan cicilan Rp6,3 jutaan (11 bulan), Rp4,4 jutaan (17 bulan), Rp3,5 jutaan (23 bulan), Rp2,9 jutaan (29 bulan) dan Rp2,6 jutaan (35 bulan). Bagi yang berminat buruan sambangi markas PT DMI di Jl. Pejaten Barat No. 5, Jakarta Selatan.
[OBK]

About pekik udi irianto 878 Articles
1. Otomotif Tabloid, PT Dunia Otomotifindo - Group of Magazine as Photographer from May 2, 1994 to June 14, 2001 2. Otosport Tabloid, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photographer from June 15, 2001 to December 31, 2001 3. Otosport Tabloid, Automotive Media Supporting Unit, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2002 to December 31, 2002 4. Otosport Tabloid, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2003 to April 5, 2003 5. Auto Bild Magazine, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from May 6, 2003 to December 31, 2008 6. Photographic Section, Auto Bild Editorial Department, Automotif Media, Publishing II Division, PT Infometro Mediatama - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2009 to October 31, 2014 7. aftermarketplus.id as Editor in Chief from August 2, 2015 to present