EV Bakal Gantikan Mobil Bensin? 5 Alasan Industri Komponen Konvensional Ternyata Belum Kiamat

pekik udi irianto | 18 Sep 2026

Full Width Image
Era Mobil Listrik Sudah Datang, Tapi Komponen Mobil Bensin Masih Diburu! Ini 5 Alasannya

AFTERMARKETPLUS.id - Gelombang kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) terus mengguncang industri otomotif dunia.

Kehadiran mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) bahkan sempat memunculkan anggapan bahwa era mobil bensin (Internal Combustion Engine/ICE) segera berakhir.

Jika mobil listrik semakin mendominasi, industri komponen dan suku cadang untuk kendaraan konvensional pun disebut-sebut bakal ikut terancam.

Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Sejumlah pelaku industri justru melihat industri komponen otomotif konvensional masih memiliki napas panjang hingga puluhan tahun ke depan.

Bahkan, transisi menuju elektrifikasi bisa berlangsung lebih lambat dari yang dibayangkan.

Lantas, apa yang membuat komponen mobil bensin masih punya masa depan?

1. Penetrasi Mobil Listrik Tidak Terjadi dalam Semalam

Pertumbuhan mobil listrik memang semakin terlihat, terutama di kota-kota besar. Namun, menggantikan seluruh populasi kendaraan bermesin bensin bukan perkara mudah.

Infrastruktur pengisian daya, kondisi geografis, daya beli masyarakat, hingga kesiapan pasar di kota-kota kecil masih menjadi faktor yang memengaruhi kecepatan adopsi EV.

Artinya, mobil bensin dan kendaraan hybrid masih akan menjadi bagian penting dari pasar otomotif dalam jangka panjang.

Apalagi, kendaraan yang sudah beredar di jalan jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan mobil baru yang terjual setiap tahunnya.

2. Mobil Hybrid Masih Mengandalkan Komponen Mesin Bensin

Ini yang sering luput dari perhatian.

Transisi dari mobil bensin menuju BEV tidak harus melewati satu lompatan langsung. Kendaraan hybrid seperti HEV dan PHEV menjadi salah satu teknologi peralihan yang masih menggunakan mesin pembakaran internal.

Konsekuensinya, berbagai komponen yang selama ini digunakan pada kendaraan bermesin bensin masih dibutuhkan.

Mulai dari komponen mesin, sistem pendinginan, transmisi, hingga berbagai komponen pendukung lainnya tetap memiliki pasar selama kendaraan hybrid dan ICE masih diproduksi serta digunakan.

3. Pasar Suku Cadang Mobil Lama Masih Sangat Besar

Inilah salah satu alasan paling kuat mengapa industri komponen konvensional belum akan hilang dalam waktu dekat.

Jumlah kendaraan yang sudah beroperasi di jalan (units in operation) jauh lebih besar dibandingkan produksi mobil baru setiap tahun.

Mobil yang sudah berusia beberapa tahun tetap membutuhkan servis dan penggantian komponen.

Bahkan ketika penjualan mobil bensin baru mulai berkurang, jutaan kendaraan lama masih membutuhkan suku cadang.

Pasar replacement inilah yang diperkirakan dapat menopang industri komponen otomotif konvensional setidaknya dalam dua dekade mendatang.

Jadi, berhentinya produksi sebuah model mobil bukan berarti kebutuhan komponennya langsung ikut berhenti.

4. Populasi Mobil Indonesia Masih Punya Ruang untuk Tumbuh

Pasar otomotif Indonesia juga masih memiliki potensi pertumbuhan yang besar.

Dengan penjualan mobil yang berada di kisaran satu juta unit per tahun, terdapat peluang pertumbuhan menuju angka yang jauh lebih tinggi seiring meningkatnya mobilitas dan kepemilikan kendaraan.

Jika populasi kendaraan terus bertambah, kebutuhan terhadap komponen dan suku cadang juga ikut meningkat.

Dengan kata lain, pertumbuhan mobil listrik tidak serta-merta menghapus kebutuhan terhadap komponen kendaraan konvensional.

5. Produsen Komponen Mulai Beradaptasi ke Era Listrik

Ancaman terbesar bagi industri komponen bukan berarti harus berujung pada kehancuran. Para produsen justru memiliki kesempatan untuk bertransformasi.

Kemampuan manufaktur yang selama ini digunakan untuk memproduksi komponen kendaraan bermesin bensin dapat dikembangkan untuk kebutuhan kendaraan listrik.

Salah satu contohnya adalah teknologi forging atau proses pembentukan logam.

Kemampuan yang sebelumnya banyak digunakan untuk material baja dapat dikembangkan untuk mengolah material aluminium yang lebih ringan dan sesuai dengan kebutuhan kendaraan listrik.

Artinya, yang berubah bukan hanya produknya, tetapi juga teknologi dan material yang digunakan.

Era EV Datang, Industri Komponen Justru Bertransformasi

"Kehadiran mobil listrik memang membawa tantangan besar bagi industri komponen otomotif," terang Yusak Kristian Solaeman, Chairman of GIAMM, President Director of PT. Astra Otoparts Tbk (18/9/2026).

"Secara umum, kendaraan listrik murni memiliki konstruksi dan jumlah komponen mekanis yang berbeda dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal. Namun, hal tersebut tidak berarti industri komponen konvensional akan langsung gulung tikar," imbuh Yusak.

Populasi kendaraan bensin yang sudah sangat besar, pertumbuhan kendaraan hybrid, kebutuhan pasar replacement, serta kemampuan produsen beradaptasi dengan teknologi baru menjadi modal penting untuk mempertahankan industri ini.

Jadi, ketika mobil listrik semakin ramai di jalan, jangan buru-buru menganggap komponen mobil bensin sudah memasuki masa pensiun.

Justru dalam beberapa dekade ke depan, keduanya berpotensi berjalan berdampingan-sebelum teknologi baru benar-benar mengubah peta industri otomotif secara menyeluruh.

#Mobil EV #Mobil ICE

...
Author : pekik udi irianto > 3473 Articles

Pekik Udi Irianto mengenyam pendidikan di Vrije Academie voor de Beeldende Kunsten, The Haque, NL. Memulai karir di bidang otomotif sejak: 1994 : Fotografer Tabloid Otomotif. 2001 : Redaktur Foto Tabloid Otosport. 2003 : Redaktur Foto Majalah Auto Bild Indonesia. 2015 : Pemimpin Redaksi aftermarketplus.id.

Comment (0)

List Comment

No Comment