Test Ride Royal Enfield Classic 350 (Bag-2): Modernitas Tak Selamanya Memberi Pengaruh Buruk

Foto: aftermarketplus.id

AFTERMARKETPLUS.id – Royal Enfield Classic 350 generasi terbaru yang meluncur di bulan Februari 2022 lalu memang sudah tak seklasik namanya lagi. Ia memiliki varian warna dengan tampilan modern, velg alloy multi-spoke hingga mesin baru dengan teknologi direct injection dan rangka yang lebih minim getaran.

Meski begitu, tak selamanya modernitas memberi pengaruh buruk. Seperti yang sudah kami sampaikan di artikel bagian pertama, bodi yang lebih minim vibrasi membuat berkendara terasa lebih nyaman dan perjalanan jauh menjadi terasa tidak begitu melelahkan.

Ya senyaman itulah yang kami rasakan saat mengendarai Royal Enfield Classic 350 selama beberapa hari dengan menempuh ratusan kilometer. Beberapa rute jalan sudah kami coba. Mulai daerah pegunungan hingga kemacetan di dalam kota.

Sewaktu mesin dihidupkan menggunakan kunci yang masih sederhana sekali, suara yang dikeluarkan knalpot terdengar familiar. Mirip sekali dengan deru knalpot Royal Enfield Classic 350 sebelumnya.

Suaranya nge-bass dengan dentuman yang stabil dan tidak memekakkan telinga. Begitu tuas gas diputar, muncul suara mesin modern sedikit merusak harmoni klasik. Tapi ya begitulah kompromi yang harus diterima demi mengikuti kemajuan zaman. Toh mesin dengan teknologi modern memberikan banyak kemudahan saat kita berkendara dengannya.

Dulu waktu pakai karburator, mungkin sejalan dengan pemakaian sesekali endapan kotoran bensin bisa membuat karburator kebanjiran bensin. Kalau sudah begitu harus menepi sejenak. Iya kalau Anda membawa perkakas dan tahu cara memperbaikinya. Kalau tidak ya harus mencari bengkel dulu.

Mesin FEI (Electronic Fuel Injection) miliknya sekarang lebih mudah dirawat. Ada filter udara dan filter bensin yang kalau dirawat dan diganti secara berkala tak akan mengganggu perjalanan. Walaupun masih memakai sistem pendingin udara dan tidak menggunakan radiator, sama sekali tak pernah kami berhenti karena mesin kepanasan.

Anda yang sering naik moge pasti sudah lumrah, kalau tiba-tiba mesin overheat dan harus menepi sejenak mendinginkan mesin karena cuaca yang panas terik dan kondisi jalanan yang macet. Selama menungganggi motor ini, tak pernah sekalipun kami bertemu dengan situasi motor kepanasan.

Hawa panas di area kaki biasanya juga kerap dirasakan penunggang motor dengan kapasitas mesin 300 cc ke atas. Jujur, setiap bermain bersama RE Classic 350 ini hawa di kaki adem-adem saja. Kondisi ini membuat motor ini sangat ideal untuk dijadikan teman sejati berkendara sehari-hari.

Mesin berkapasitas 349,34 cc miliknya menghasilkan tenaga maksimal 19,9 PS dengan torsi puncak 27 Nm. Mesin ini punya karakter overstroke yang artinya langkah dibuat lebih besar dibanding dimensi bore.

Biar gampang menganalogikannya, seperti layaknya mesin truk yang berkapasitas besar. Torsinya yang besar berguna di putaran mesin rendah membuat motor ini tak kewalahan saat dipakai menanjak di area pegunungan. Rasio gigi transmisi 5-percepatan miliknya juga tak membuat motor menghentak saat menghadapi situasi stop and go di kemacetan lalu-lintas di perkotaan. Pokoknya nyaman sekali.

Kecepatan maksimumnya bisa mencapai 130 km/jam. Artinya motor ini tidak pelan juga. Memang berbeda sekali kalau Anda bandingkan karakter berkendaranya dengan motor sport seperti Ninja 250 atau sejenisnya.

Tapi kapanpun Anda butuhkan, saat hendak mendahului truk yang berjalan di depan misalnya, RE Classic 350 ini tetap bisa diandalkan. Di rentang kecepatan berapapun, kalau Anda putar handle gas lebih jauh, tubuh Anda berasa ditarik-tarik sedikit ke belakang.

Bantingan suspensinya pun cukup lembut. Kalau sebelumnya suspensi belakangnya menggunakan model dengan tank gas, versi barunya ini tidak. Tapi tidak mengurangi tingkat kenyamanannya. Bahkan ketika dipakai boncengan berdua sekalipun, kualitas kenyamanan suspensinya tidak berkurang.

Malahan posisi berkendara menjadi lebih rileks lagi karena posisi berkendara menjadi lebih rendah sedikit. Saat dipakai sendiri pun kaki bisa menapak sempurna ke jalan, apalagi kalau sedang boncengan.

Banyak lagi modernitas yang diusung motor bergaya klasik ini. Contohnya, pengunci setang yang dulunya terpisah dengan kunci tersendiri, sekarang layaknya sepeda motor modern, Anda bisa mengunci stang motor ini dengan memutar kunci kontak.

Cluster meter pun sudah dilengkapi dengan layar MID (Multi Information Display). Kalau sebelumnya Anda akan kesulitan mengetahui sisa bahan bakar di tangki, sekarang ada indikatornya di MID. Hanya memang indikator putaran mesin atau tachometer belum tersedia.

[MNR]

About pekik udi irianto 1793 Articles
1. Otomotif Tabloid, PT Dunia Otomotifindo - Group of Magazine as Photographer from May 2, 1994 to June 14, 2001 2. Otosport Tabloid, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photographer from June 15, 2001 to December 31, 2001 3. Otosport Tabloid, Automotive Media Supporting Unit, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2002 to December 31, 2002 4. Otosport Tabloid, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2003 to April 5, 2003 5. Auto Bild Magazine, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from May 6, 2003 to December 31, 2008 6. Photographic Section, Auto Bild Editorial Department, Automotif Media, Publishing II Division, PT Infometro Mediatama - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2009 to October 31, 2014 7. aftermarketplus.id as Editor in Chief from August 2, 2015 to present