Pasar Kendaraan Komersial Menjajikan, DFSK Siap Garap Serius

AFTERMARKETPLUS.id – Pasar kendaraan komersial di Indonesia cukup menjajikan dan memiliki pangsa pasar yang cukup besar setiap tahunnya untuk mendorong pertumbuhan otomotif nasional.

Sebagai produsen otomotif dari Tiongkok, DFSK melihat masih ada sejumlah segmen yang belum dimaksimalkan untuk mendorong pertumbuhan bisnisnya di Indonesia.

DFSK melihat adanya sebuah pertumbuhan yang cukup konsisten dan ceruk pasar yang cukup cerah untuk kendaraan Minibus & Blind Van.

“Melihat tren industri kendaraan komersial di Indonesia akan bertumbuh dari tahun ke tahun, serta mengingat Indonesia saat ini membutuhkan banyak kendaraan komersial untuk menggerakan roda perekonomian. Pandangan kami sama dengan Gaikindo, kedepannya pasar kendaraan komersial akan terus tumbuh meski tidak terlalu signifikan di tahun 2020 atau sekitar 5 persen,” ujar Arviane D. Bahar, PR & Digital Manager PT Sokonindo Automobile.

Bahkan bila melihat data yang dikeluarkan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), kedua segmen ini tetap mengalami pertumbuhan meski secara keseluruhan pasar otomotif nasional masih belum terlalu bergairah.

Bila dirinci penjualan minibus di 2019 mencapai 18.300 unit dan mengalami pertumbuhan 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kemudian penjualan di segmen blind van mencapai 9.600 unit dan mengalami pertumbuhan signifikan mencapai 15%. Pertumbuhan ini yang kemudian memotivasi DFSK untuk melakukan ekspansi bisnis di segmen kendaraan komersial yang sebelumnya baru mencakup di ceruk pikap ringan.

Peluang DFSK untuk masuk dan mengembangkan bisnis di segmen Minibus & Blind Van semakin terbuka lebar karena tidak banyaknya pemain di kedua segmen ini.

Sehingga masuknya DFSK ke segmen ini akan membuat konsumen semakin banyak pilihan untuk membeli kendaraan yang sesuai dengan kebutuhannya dan daya belinya.

Menurut hasil survei yang dilakukan oleh internal DFSK menunjukan, penggunaan model Minibus oleh konsumen di Tanah Air bisa menjadi dual purpose.

Yang pertama, Bagi konsumen perseorangan cenderung menggunakan kendaraan minibus sebagai kendaraan penumpang sebanyak 60% dan sisanya 40% digunakan untuk keperluan angkut barang.

Lain halnya dengan konsumen corporate atau perusahaan, sebanyak 60% minibus digunakan untuk keperluan mengangkut barang dan 40% nya sebagai kendaraan penumpang.

Berbeda dengan model Blind Van yang memang ditujukan untuk mendukung kelancaran berbagai bisnis konsumen di Indonesia.

Penggunaan model Blind Van bisa digunakan untuk mendukung bisnis logistik, food & beverage, ambulance, ekspedisi, sosial car, dan berbagai kebutuhan lainnya.

[WAP]