Aturan Batas Kecepatan Membuat Resiko Berkendara di Tol dengan Mobil Diatas 1.500 cc Kian Berbahaya. Kok Bisa?

AFTERMARKETPLUS.id – Aturan batas kecepatan di jalan bebas hambatan alias tol berdampak banyak terhadap pola berkendara. OtoPintar pun telah mencobanya dalam perjalanan Jakarta – Bandung dengan Toyota Innova.

ATURAN BATAS KECEPATAN

Kecepatan maksimal di jalan tol dalam kota adalah 80 km/jam dengan batas toleransi hingga 100 km/jam, sedangkan tol luar kota bisa melaju hingga 100 km/jam dengan batas toleransi 120 km/jam. Artinya bila melewati batas toleransi, siap-siap dikirimi surat tilang ke alamat pemilik mobil.

Dengan aturan batas kecepatan ini, maka kecepatan antar kendaraan akan cenderung sama, baik mobil dengan kapasitas mesin mungil atau kendaraan bergenre supercar sekalipun.

SULIT BIKIN JARAK AMAN

Hal ini jelas akan meningkatkan ego berkendara dengan tidak menerapkan jarak aman, lantaran sulitnya untuk memacu kendaraan, terutama mobil-mobil dengan kapasitas di atas 1.500 cc. Alhasil, tentu kian sulit bagi pengendara untuk sekadar berpindah lajur di kondisi lalu lintas padat akibat jarak antar kendaraan yang cukup rapat.

Sedikit memaksakan pindah lajur, tentu akan berdampak pada kian mudahnya tabrakan beruntun akibat deselerasi mendadak. Tanpa jarak aman berkendara, tentu berpotensi terhadap kecelakaan.

Kondisi ini pun, membuat pengendaran kian malas untuk berada di lajur lambat atau lebih lambat. Lantaran akan semakin sulit untuk kembali ke lajur cepat jika harus menyalip kendaraan di depannya dengan jarak yang rapat di lajur cepat.

KIAN MELELAHKAN

Efek selanjutnya adalah terkurasnya energi pengemudi akibat harus terus menerus memantau speedometer untuk menjaga batas kecepatan berkendara.

Apalagi bagi mobil berkapasitas mesin besar, dimana kecepatan di atas 100 km/jam kian mudah diraih dengan sedikit saja injakan pedal gas. Efeknya, sudut tumit akan membuat kaki cepat terasa pegal karena harus konstan dalam kondisi sama, terus menerus.

SOLUSINYA

Pengendara perlu mengubah pola pikir untuk rileks saat bepergian ke luar kota. Apalagi yang hobi pada waktu tempuh berkendara yang biasanya menjadi acuan saat perjalanan luar kota.

Lalu kedua, perlu lebih sering mampir ke rest area, untuk sekadar melakukan senam kecil dan beristirahat agar ‘mood’ berkendara membaik kembali. Karena tanpa ‘mood’ yang baik, maka konsentrasi mengemudi akan menurun jauh.

MOBIL-MOBIL MASA DEPAN

Hal inilah yang membuat fitur cruise control akan terasa manfaatnya. Dan sudah dipastikan, fitur ini akan menjadi kelengkapan standar di mobil-mobil produksi masa depan.

Atau menggunakan mobil dengan kapasitas mesin kecil non turbo yang notabene memiliki tenaga mesin terbatas dengan power to weight ratio buruk, agar posisi tumit pada pedal gas masih bisa sedikit lurus tanpa takut melewati batas toleransi kecepatan.

Diprediksi, mobil kapasitas mungil kian memikat konsumen Tanah Air untuk dimiliki, ketimbang mobil dengan performa powerfull.

Tak heran jika rambu penunjuk di ruas tol kini tak lagi mengacu pada satuan jarak, tapi sudah menerapkan satuan waktu layaknya berkendara di negara maju.

Plus, keuntungan penerapan aturan ini adalah bikin konsumsi BBM kian irit, lantaran pengemudi kian jarang menekan pedal gas lebih dalam untuk berakaselerasi cepat.

[Dhany Ekasaputra]

About Dhany Ekasaputra 262 Articles
Experience 1. Racing Driver (1999-2002) 2. Testing Driver, e.g : Lamborghini Aventador, Lamborghini Gallardo, Lotus Elise, Nissan GT-R, Nissan Juke R, McLaren 650 S, etc (2001-2015) 3. Journalist Otosport (2001-2003) 4. Journalist Auto Bild Indonesia (2003-2009) 5. Technical Editor Auto Bild Indonesia (2009-2015) 6. Instructor Safety Institute Indonesia (2014-2016) 7. Operational Manager PT OtoMontir Kreasi Indonesia (2015-2017) 8. Managing Editor aftermarketplus.id (2017- )