AFTERMARKETPLUS.id - Efek dari perang di Timur Tengah, panic buying terhadap fluktuasi harga BBM, bikin produsen alat penghemat BBM memanfaatkan momentum ini.
Testimoni mampu menghemat konsumsi BBM hingga 20 - 40% menjadi gimmick menarik yang ditawarkan.
Bener gak sih, ada alat penghemat BBM yang bisa memberikan dampak luar biasa? Pahami biar gak keblinger...
STANDAR EMISI GAS BUANG
"Andai ada sebuah alat yang dapat menghemat konsumsi BBM hingga lebih dari 10%, produsen mobil tentu akan mengadopsinya. Ketimbang harus membuang uang untuk biaya riset teknologi, seperti mengubah pasokan bahan bakar karbu menjadi injeksi atau mengatur gas flow dengan katup variable agar campuran bahan bakar lebih homogen," ujar alm. Teddy Irawan saat media test drive Nissan Evalia tahun 2012.
Seperti kita ketahui, bahwa emisi gas buang selalu berkembang kearah yang lebih bersih. Hal ini tentu berdampak pada teknologi mesin agar bisa lolos uji emisi sehingga kendaraan tersebut dapat dijual dipasaran.

Tak heran jika dahulu, pasokan bahan bakar karburator, tergusur oleh pasokan injeksi, lalu hadir teknologi katup variable seperti VTEC, VVT-i dan lainnya, semua ini tentu bertujuan agar efisiensi bahan bakar kian semakin baik.
Karena prinsipnya adalah, semakin sedikit bahan bakar yang masuk ke ruang bakar, otomatis akan menghasilkan emisi gas buang yang rendah.
Biaya pengembangan ini, tentu tidaklah sedikit. Dimana efisiensi yang dihasilkan pun, tidak selalu fantastis.
Tercatat angka yang fantastis hanya terjadi saat perubahan dari sistem pasokan bahan bakar dan teknologi hybrid yang dapat menyentuh persentase lebih irit diatas 20%.
Selebihnya, optimalisasi pengapian dari platina ke CDI hingga direct coil, atau multi valve, katup dan intake manifold variabel, hingga direct injection, efisiensi masing-masing teknologi yang dihasilkan pun masih dikisaran 10%.
Artinya, jika ada sebuah alat yang mampu menghemat konsumsi BBM hingga 40%... Tentu sudah tau kan jawabannya...
TESTIMONI BERDASARKAN SUGESTI
Metode tes berlandaskan sugesti, kerap menjadi sebuah standar untuk menghasilkan sebuah testimoni yang positif.
Tinggal RESET MID, lalu berjalan sekitar 20-50 km tanpa memperhatikan data kecepatan rata-rata sebagai faktor kondisi lalu lintas, sudah cukup mewakili angka efisiensi tersebut.
Padahal pengujian sesungguhkan perlu dilakukan ratusan hingga ribuan kilometer agar datanya kian valid.
So... tetap bijak dalam menyikapi informasi di medsos yaa...
List Comment
No Comment