Jangan Asal Ganti Busi Kalo Belum Mengerti Apa Itu Fire Point…

AFTERMARKETPLUS.id – Pilihan selain busi standar begitu banyak di pasaran. Tapi… Sobat OtoPintar jangan asal ganti busi yaaa… kalo belum mengerti apa itu fire point pada busi…

Apa itu Fire Point?

Jadi fire point itu merupakan titik nyala api di busi yang telah ditentukan oleh produsen kendaraan sebagai pembuat mesinnya.

“Fire point atau firing position diukur dari permukaan kepala silinder. Jadi angka nol-nya dihitung dari ujung keluaran lubang busi yang menuju ruang bakar,” terang Diko Oktaviano selaku Technical Support NGK Busi Indonesia.

Semisal Yamaha NMax yang menggunakan busi standar iridium (NGK CPR8EA-9) memiliki firing position 3.0 mm. Artinya, titik nyala busi (fire point) berjarak 3 mm dari ujung permukaan kepala silinder.

Diko pun menjelaskan bahwa semakin titik nyala (fire point) busi mendekati permukaan piston saat TMA (Titik Mati Atas), tenaga mesin akan semakin baik.

Hal ini dikarenakan daya dorong hasil proses pembakaran di ruang bakar akan berdampak lebih baik ketika posisi fire point berada dekat dengan permukaan piston.

Tapi… Dari hasil study, pihak NGK hanya merekomendasikan fire point berselisih tak lebih dari 1 mm. Hal ini bertujuan agar piston tidak bersinggungan dengan busi sebagai faktor safety.

Perubahan fire point diperlukan saat pemilik kendaraan melakukan modifikasi seperti penggantian piston jenis flat atau dome untuk meningkatkan rasio kompresi mesin.

Sebagai contoh, busi standar Yamaha R6 dengan kode busi CR10EK yang memiliki firing position
2.5 mm alias berselisih menjauhi permukaan piston 0.5 mm dari busi standar Yamahan NMax yang dirancang memiliki firing position 3.0 mm.

Perubahan firing position menuntut perubahan rasio kompresi dan waktu pengapian (timing ignition) agar momentum daya dorong piston saat terjadi pembakaran tetap optimal.

Kesimpulannya, semakin tinggi kompresi memerlukan firing position yang lebih pendek agar busi dengan piston tidak bersinggungan.

Fire point semakin menjauh dari permukaan piston, otomatis perlu waktu pengapian yang lebih cepat dari sebelumnya, agar tidak kehilangan momentum daya dorong pistonnya.

Jadi… jangan sembarangan ganti busi aftermarket yaa… jika tidak ingin kehilangan momentum daya dorong pistonnya.

[Dhany Ekasaputra]

About Dhany Ekasaputra 250 Articles
Experience 1. Racing Driver (1999-2002) 2. Testing Driver, e.g : Lamborghini Aventador, Lamborghini Gallardo, Lotus Elise, Nissan GT-R, Nissan Juke R, McLaren 650 S, etc (2001-2015) 3. Journalist Otosport (2001-2003) 4. Journalist Auto Bild Indonesia (2003-2009) 5. Technical Editor Auto Bild Indonesia (2009-2015) 6. Instructor Safety Institute Indonesia (2014-2016) 7. Operational Manager PT OtoMontir Kreasi Indonesia (2015-2017) 8. Managing Editor aftermarketplus.id (2017- )