Mengenal Turbo Lag yang Menjadi Penyebab DFSK Glory Gak Kuat Nanjak

Foto: aftermarketplus.id

AFTERMARKETPLUS. id – Turbo lag merupakan momok bagi pengendara bermesin turbo akibat hilangnya tenaga mesin di putaran rendah. Hal inilah yang terjadi pada DFSK Glory 580 Turbo CVT.

KENAPA TURBO LAG TERJADI ?
Untuk mengetahui hal ini, Sobat perlu mengetahui prinsip dasar turbocharged terlebih dahulu. Dimana tugas utama turbo adalah memampatkan udara segar ke dalam ruang bakar dengan memanfaatkan aliran gas buang di exhaust manifold.

Oleh sebab itu, turbocharger memiliki dua area penting yang saling terkoneksi, yakni compressor wheel saluran masuk dan turbine wheel di saluran buang. 

Turbo lag akan terjadi jika aliran gas buang belum mampu memutar bilah pada area turbine sehingga proses pemampatan udara segar di intake manifold beluk terjadi. Artinya, kebutuhan udara segar di mesin masih mengandalkan gerakan piston layaknya mesin Normally Aspirated alias non-turbo.

Tak heran jika Volkswagen malah menggabungkan supercharged dengan turbocharged di VW Golf 1.4 TSI generasi pertamanya untuk memininalkan turbo lag. Dimana supercharged memanfaatkan putaran mesin untuk memampatkan udara segar ke ruang bakar.

Kemudian dikembangkan dengan Variabel Geometry Turbo (VGT), agar bilah turbine lebih cepat berputar, meski putaran mesin masih rendah sekalipun, atau Toyota yang mengadopsi Variable Nozzle Turbochager (VNT). Bahkan Honda dengan teknologi Earth Dreams-nya, mengadopsi rasio kompresi mesin tinggi hingga 10.6 : 1, agar tenaga diputaran rendah tetap optimal. 

OtoPintar pun pernah menulis perbandingan teknologi Turbo di mesin 1.500 cc. https://aftermarketplus.id/oto-pintar/bandingkan-mesin-1-500-cc-turbo-di-bmw-x1-honda-cr-v-1-5l-dan-dfsk-glory-580-bagaimana-performanya

Nah… jadi bisa dibayangkan kan Sob, bagaimana menderitanya saat mesin terkena turbo lag saat di jalan menanjak. Apalagi saat dipadu dengan transmisi matik atau CVT, sehingga kian sulit untuk menjaga agar putaran mesin tetap optimal untuk menjaga agar kitiran bilah turbo tetap mampu memampatkan udara ke dalam ruang bakar.

Tenaga mesin yang dihasilkan, tak akan cukup untuk membawa mobil untuk melewati jalan menanjak, apalagi jika bermuatan penuh dan start dari kondisi berhenti. 

Plus, jika modul ECU pada transmisi belum dilengkapi dengan sensor sudut kemiringan sehingga rasio puli atau gigi dapat ditahan pada rasio tertentu, sehingga putaran mesin dapat terjaga. Pada teknologi Honda disebut dengan Grade Logic Control. 

Kian diperparah ketika teknologi Throotle by Wire disematkan. Artinya, bukaan katup gas tak bisa lagi dikontrol oleh kaki kanan pengemudi sehingga memasrahkan pada program di ECU kendaraan berdasarkan input dari beragam sensor. 

Solusinya… produsen mobil perlu melakukan penggantian turbocharged berteknologi VGT atau meningkatkan rasio kompresi serta membuat program ulang pada mapping di transmisi agar lebih sensitif terhadap perubahan sudut permukaan jalan.

[Dhany Ekasaputra]

About Dhany Ekasaputra 250 Articles
Experience 1. Racing Driver (1999-2002) 2. Testing Driver, e.g : Lamborghini Aventador, Lamborghini Gallardo, Lotus Elise, Nissan GT-R, Nissan Juke R, McLaren 650 S, etc (2001-2015) 3. Journalist Otosport (2001-2003) 4. Journalist Auto Bild Indonesia (2003-2009) 5. Technical Editor Auto Bild Indonesia (2009-2015) 6. Instructor Safety Institute Indonesia (2014-2016) 7. Operational Manager PT OtoMontir Kreasi Indonesia (2015-2017) 8. Managing Editor aftermarketplus.id (2017- )