AFTERMARKETPLUS.id - Teknologi listrik sebagai penggerak, kini sudah menjadi tren kendaraan modern.
Beragam jenis teknologi ini sudah hadir untuk pasar Indonesia, seperti hybrid yang dipelopori oleh Toyota, lalu mobil listrik (Electric Vehicle) dan PHEV (Plug In Hybrid Electric Vehicle). Apa sih perbedaannya dari setiap teknologi ini ?
Hybrid Electric Vehicle (HEV)
Toyota Camry Hybrid di tahun 2007 menjadi mobil produksi massal pertama yang masuk pasar Indonesia.

Saat itu Auto Bild Indonesia menjadi media pertama yang mencoba mobil ini di proving ground Bridgestone sebelum dirilis oleh pihak Toyota.
Kini Toyota Veloz menjadi mobil berteknologi full hybrid termurah di Indonesia dengan harga dikisaran Rp 300 jutaan.
Dengan kapasitas baterai 0.7 kWh, penggunaan mode EV-nya menjadi sangat terbatas dan hanya dapat digunakan dalam kondisi dibawah 60 km/jam tanpa menginjak pedal gas terlalu dalam.
Tapi dengan baterai yang mungil dan diletakan di bawah bangku depan, membuat bobot mobil ini hanya 1.350 kg.
Center of gravitynya, menjadi lebih baik sehingga mobil menjadi lebih stabil dan nyaman dibandingkan Veloz non-hybrid.
Harga baterai pun tergolong murah dengan kisaran Rp 35-40 jutaan dengan garansi 8 tahun atau 160.000 km - garansi tetap berlanjut saat mobil dijual sekalipun.
Teknologi hybrid ini lebih mengedepankan efisiensi terbaik dalam penggunaan bahan bakar. Alhasil, HEV menjadi mobil berbahan bakar fosil paling irit sehingga cocok untuk kebutuhan mobil pertama di Indonesia.
OtoPintar pernah menguji Toyota Yaris Cross Hybrid dengan bensin full tank (36 liter) dan full load hingga mesin mati.
.jpg)
Jarak tempuh yang dapat dicapai hingga 989 km atau memiliki konsumsi BBM mencapai 27,5 km/l.
Electric Vehicle (EV)
Setelah dipamerkan pada GIIAS 2017, BMW i3 baru dijual dengan harga Rp 1.35 milyar pada tahun 2019 oleh APM resmi di Indonesia. Jarak tempuh mobil ini sekitar 260-280 km.
Namun ketika bercerita mobil listrik pertama yang diproduksi di pabrik di Indonesia, tentu Hyundai Ionic 5 yang ditawarkan dengan harga lebih terjangkau dari BMW, yakni Rp 829 juta untuk varian baterai Long Range yang mampu menempuh hingga 481 km.
Tapi bercerita harga baterai berkapasitas 72.6 kWh sebagai satu-satunya pemasok daya penggerak di mobil listrik Hyundai ini mencapai kisaran harga Rp 400 jutaan dengan garansi 8 tahun atau 160.000 km.
Namun jika baterai mulai bermasalah, konsumen tak selalu perlu mengganti baterai secara keseluruhan, karena Hyundai Ionic membagi baterai menjadi 8 modul, dimana harga 1 modul baterai berkisar Rp 30-40 juta.
Meski tidak menggunakan mesin, bobot Hyundai Ionic 5 Long Range mencapai 1.990 kg. Tak heran jika kenyamanan mobil listrik ini menjadi cukup baik, apalagi posisi baterai yang ditempatkan di bawah mobil.
Dengan asumsi konsumsi daya listrik Hyundai Ionic 5 dikisaran 7.5 km/kWh, membuat biaya per km bisa mencapai 60% lebih murah dibandingkan HEV yang murni menggunakan bensin.

Plug In Hybrid Electric Vehicle (PHEV)
Plug In Hybrid Electric Vehicle (PHEV) sendiri diperkenalkan oleh Mitsubishi Outlander di GIIAS 2019. Auto Bild Indonesia pun telah mencobanya di Jepang di sela-sela pameran Tokyo Motorshow.
Prinsip PHEV adalah mobil hybrid yang menggunakan baterai lebih besar dan dapat di charged di SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum).
Seperti Mitsubishi Outlander PHEV ini memiliki baterai berkapasitas 13.8 kWh sehingga bisa menempuh jarak 55 km -dalam kondisi baterai full - tanpa perlu mesin bensin berkapasitas 2.400 cc-nya bekerja.
Kombinasi hadirnya mesin bensin dan baterai berkapasitas cukup besar ini, membuat bobot Mitsubishi Outlander ini mencapai 1.895 kg alias mirip dengan mobil listrik.
Dimana Produsen Mobil China?
ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) dengan biaya R&D semurah mungkin, membuat harga kendaraan produsen China begitu menggoda. Terpenting adalah harga dan fitur lengkap, yang menjadi gimmick menarik minat konsumen di Indonesia.
Bagi produsen mobil China, BYD M6 PHEV jauh lebih menarik ketimbang merilis HEV untuk pasar Indonesia.
Apalagi mereka menawarkan jarak tempuh 40-45 km dengan kapasitas baterai 7.4 kWh dengan harga lebih murah dari Toyota Veloz Hybrid.
Begitu pun dengan EV, dimana harga Rp 200-300 juta seperti Geely EX2 atau Jaeco J5 yang sudah memiliki segudang fitur menarik dan jarak tempuh memadai untuk digunakan sehari-hari.
Tapi saat berbicara purna jual, apakah produsen China sanggup mengekor produsen yang lebih dulu hadir di Tanah Air.
Bahkan Nissan Indonesia pernah merilis program ketersediaan suku cadang dengan jaminan '1x24 jam atau GRATIS'.
Langkah paling mudah bagi brand China, tentu dengan mengkanibal mobil utuh untuk dijadikan sparepart slow moving layaknya kita bermain ke jungyard (kampakan mobil).
Hal inilah yang ditawarkan produsen dengan pengalaman panjang dan memiliki pabrik perakitan kendaraan di Indonesia, seperti Toyota, Honda, Suzuki dan Mitsubishi.
Tak heran jika asuransi mobil China menjadi jauh lebih mahal ketimbang brand Jepang atau Korea.
#Teknologi PHEV #teknologi hybrid
List Comment
No Comment