Ban Bridgestone Tidak Bisa Pecah! Jika...

Dhany Ekasaputra | 20 Oct 2025

Full Width Image
Bridgestone Bongkar Rahasia: Ban Tak Akan Pecah Kalau Sobat Hindari 3 Kesalahan Fatal Ini

AFTERMARKETPLUS.id - Pecah ban menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan di jalan tol. Tapi tahukah Sobat, jika ban Bridgestone tidak bisa pecah, jika tidak ada pemicunya.

Nah... apa saja pemicu ban pecah sebagai salah satu penyebab kecelakaan? 

1. Tekanan Ban

Tekanan angin ban berlebih di kendaraan, kerap menjadi 'kambing hitam' terjadinya ban pecah. Padahal, kerugian dari tekanan angin berlebih pada ban berpengaruh pada masalah kenyamanan, keausan ban tidak merata dan traksi/grip yang berkurang.

Tetapi jika terlalu tinggi juga dapat rentan terhadap pecah (blowout) ketika membentur benda tajam dengan keras.

Namun sebaliknya malah menjadi pemicu ban pecah jika tekanan angin kurang alias kempis. Hal ini dikarenakan, dinding ban akan mengalami defleksi (flexing) berlebih saat meredam kontur permukaan jalan, terutama saat muatan berlebih, kecepatan tinggi dan melalui jalan bergelombang atau lubang.

Defleksi yang berlebih akan menimbulkan panas, yang dapat melemahkan struktur ban. Alhasil, kontruksi dinding ban sebagai sisi terlemah dari sebuah ban akan rusak dan mengakibatkan ban pecah. 

"Bridgestone Indonesia secara konsisten mengadakan kampanye keselamatan melalui berbagai kanal komunikasi, khususnya media massa dan media sosial, terutama menjelang masa liburan.

Kampanye ini mengajak masyarakat untuk memeriksa kondisi ban kendaraan sebelum musim liburan, khususnya tekanan angin ban," ujar Head of OE (Original Equipment) Sales Bridgestone Indonesia, Fisa Rizqiano. 


2. Tambalan ban non permanen

Salah satu keunggulan ban tubeless adalah lebih sulit kehilangan tekanan angin ban secara tiba-tiba ketika terkena benda tajam seperti paku.

Untuk itu, saat pengendara mengetahui hal ini, sebaiknya paku tidak langsung dilepaskan, tapi segera membawanya ke bengkel tambal ban terdekat yang memiliki keahlian menambal, dan memeriksa kondisi tusukan (apakah masih layak ditambal atau tidak).

Jenis penambalan yang paling umum digunakan adalah jenis string tubeless alias tambalan cacing. Jenis penambalan ban ini tidak direkomendasi oleh produsen ban karena bersifat sementara atau darurat.

Pasalnya, proses penambalan ini memiliki konsekuensi terhadap diameter lubang yang menjadi lebih besar. Kontruksi kawat baja di telapak ban akan lebih banyak yang terputus dan berefeknya pada menurunkan kekuatan ban. Potensi ban pecah lebih mudah terjadi saat menghantam jalan berlubang.

Penambalan ban yang direkomendasikan oleh produsen ban adalah jenis plug and patch. Meski lebih merepotkan karena ban perlu dilepas dari velg-nya, tapi cara ini yang paling aman karena penambalan dari arah dalam dan tidak menambah besar lubang bocornya.

"Meski direkomendasikan, penambalan plug and patch ini tetap memiliki batasan. Dalam satu ban, disarankan tidak lebih 3 dengan minimal jarak 15 cm.

Setiap tambalan akan melemahkan struktur ban dan beresiko terjadinya pemisahan antara lapisan ban. Dan ingin kami tekankan bahwa bahwa area dinding sangat tidak disarankan untuk ditambal," terang Fisa.

3. Terkena Benda Tajam

Dinding ban merupakan bagian terlemah dari sebuah ban. Dengan kondisi tertentu, benturan keras dengan benda tajam seperti bibir lubang jalan yang tajam atau benda tajam lainnya, juga menjadi pemicu ban pecah.

Kondisi dimaksud adalah angin kurang, beban berat, kecepatan tinggi, termasuk posisi ban terhadap objek yang dibentur. 

Konsentrasi saat berkendara menjadi sangat penting dalam memantau kondisi jalan dalam menghindari ban pecah, termasuk berkendara secara defensif.

Nah, jadi pastikan tekanan angin ban kendaraan Sobat selalu diperiksa setiap minggu dan hindari penambalan string tubeless. Plus, jangan lupa untuk selalu waspada saat berkendara...

#Ban Bridgestone

...
Author : Dhany Ekasaputra > 321 Articles

Dhany Ekasaputra merupakan lulusan jurusan Teknik Mesin Universitas Pancasila yang memulai karir dibidang otomotif sejak;
- 1997 : Komunitas Balap KE System
- 1999 : Balap Turing dan Drag Race
- 2001 : Wartawan Tabloid Otosport
- 2003 : Wartawan Auto Bild Indonesia
- 2007 : PIC Auto Bild Indonesia Award
- 2009 : Editor Teknik Auto Bild Indonesia
- 2015 : Safety Driving Institute Otomotif Group
- 2016 : Manager Otomontir Kompas Gramedia
- 2018 : Redaktur Pelaksana Aftermarketplus.id

Comment (0)

List Comment

No Comment