AFTERMARKETPLUS.id - Setelah Wuling Cortez diperkenalkan 8 Februari 2018 lalu, Wuling Motors menggelar media Test Drive di Jawa Timur (7-9/23).
Rute Malang - Bromo - Surabaya menjadi ajang pembuktian sang New Kid On The Block, mengingat Wuling Cortez 1.8 Lux i-AMT dengan harga Rp 264 juta menjadi penantang serius di kelas MPV.
Jika dibandingkan dengan Wuling Confero, desain bodi Cortez jauh lebih baik dengan tingginya kap mesin. Hal ini membuatnya terlihat lebih proposional.
Kesan modern diperoleh dengan penerapan seluruh lampunya yang telah menggunakan LED. Desain headlamp berikut dengan DRL serta stoplamp, telah mengikuti tren saat ini.
Posisi Mengemudi
Masuk ke interior, Cortez kian menunjukan kelasnya. Dengan harga yang terjangkau, ia memiliki kualitas mumpuni dengan segudang fitur di dalamnya.
Posisi duduk tinggi membuat visibilitas luas dengan pengaturan bangku depan elektris. Panel instrumen pun sangat menarik perhatian, lantaran begitu lengkapnya informasi yang diberikan melalui MID. Bahkan jika penumpang belakang tidak memakai seatbelt pun, dapat terdeteksi via layar instrumen.
Pengaturan AC digital Cortez masih mengadopsi program seperti mobil Eropa. Jadi saat mesin distarter, pengemudi perlu mengubah posisi sirkulasi AC menjadi tertutup. Bahkan setelah beberapa waktu, sirkulasi AC otomatis terbuka, mengingat di Eropa hal ini menjadi standar agar kadar oksigen di kabin tetap terjaga. Tapi di Indonesia, malah asap kendaraan yang akan masuk ke interior.
Rem parkir pun, Cortez telah menggunakan jenis elektris. Tak heran jika seluruh rem menggunakan jenis cakram. Bahkan Cortez telah dilengkapi fitur Automatic Vehicle Holding (AVH) dan Hill Hold Control (HHC) yang sangat berguna.
Jadi pengemudi tidak perlu lagi menginjak pedal rem saat berhenti, meski posisi transmisi otomatis 5-speed nya berada di D (Drive).
Performa transmisi yang diberi nama i-AMT (intelligent Automated Mechanical Transmission) menjadi catatan tersendiri.
Entakan perpindahan gigi terutama di kecepatan rendah cukup terasa. Hal ini akibat mapping komputer yang kurang sigap sehingga perpindahan terasa delay.
Begitupun efek engine brake yang dihasilkan saat berada dalam mode Eco (E), namun sedikit membaik saat menggunakan mode Sport (S).
Jadi pengemudi disarankan untuk beradaptasi terlebih dahulu dengan karakter transmisi Cortez jika ingin menggunakan mode otomatis (D).
Wajar jika dalam media Test Drive ini, pengemudi wajib menggunakan mode manual (M) saat melalui jalan menanjak dan menurun curam serta berliku menuju Bromo.
Untuk suspensi, ini menjadi keunggulan Wuling Cortez tipe L. Penerapan suspensi independen di belakang memberi dampak positif dalam melibas jalan rusak. Hal ini dikarenakan penerapan swing arm aluminium layaknya mobil balap.
Konsekuensi mobil nyaman, tentu mempengaruhi pengendalian. Meski akurasi kemudi Cortez tidak terlalu akurat, namun masih dalam batas toleransi, mengingat ini sebuah mobil keluarga. Apalagi Wuling menyematkan fitur Electronic Stability Control (ESC).
Untuk performa mesin sendiri, Wuling Cortez berada dalam batas cukup. Mesin berkapasitas 1.800 cc mampu menghasilkan tenaga 129 hp di 5.600 rpm serta torsi 174 Nm sejak 3.600 rpm.
Untungnya, Cortez mengadopsi gerak roda depan sehingga penyaluran tenaga lebih efisien.
Posisi Penumpang
Puas menjadi pengemudi, kini saatnya mencoba kenyamanan sebagai penumpang. Ruang lapang menjadi keunggulan Cortez. Begitu pun dengan penerapan captain seat di bangku baris kedua.
Mencoba duduk di bangku baris ketiga pun tetap terasa lega dengan sudut bangku yang dapat diatur santai sehingga tidak terasa pegal meski perjalanan jauh sekalipun.
Bahkan dalam posisi seperti ini, Cortez tetap menawarkan ruang bagasi yang lapang.
Pengaturan AC digital juga ditawarkan untuk penumpang belakang. Asyiknya, ditiap baris tersedia USB port yang berfungsi sebagai charger.
Lapisan atap tebal pun membuat keheningan Cortez termewah ini tetap terjaga meski kondisi hujan deras.
Sebagai New Kid On The Block, Wuling Cortez memang menjadi ancaman serius di kelasnya. Perpaduan harga dengan produk, membuat Cortez terlihat begitu value for money.
[Dhany Ekasaputra]
Jika dibandingkan dengan Wuling Confero, desain bodi Cortez jauh lebih baik dengan tingginya kap mesin. Hal ini membuatnya terlihat lebih proposional.
Kesan modern diperoleh dengan penerapan seluruh lampunya yang telah menggunakan LED. Desain headlamp berikut dengan DRL serta stoplamp, telah mengikuti tren saat ini.
Posisi Mengemudi
Masuk ke interior, Cortez kian menunjukan kelasnya. Dengan harga yang terjangkau, ia memiliki kualitas mumpuni dengan segudang fitur di dalamnya.
Posisi duduk tinggi membuat visibilitas luas dengan pengaturan bangku depan elektris. Panel instrumen pun sangat menarik perhatian, lantaran begitu lengkapnya informasi yang diberikan melalui MID. Bahkan jika penumpang belakang tidak memakai seatbelt pun, dapat terdeteksi via layar instrumen.
Pengaturan AC digital Cortez masih mengadopsi program seperti mobil Eropa. Jadi saat mesin distarter, pengemudi perlu mengubah posisi sirkulasi AC menjadi tertutup. Bahkan setelah beberapa waktu, sirkulasi AC otomatis terbuka, mengingat di Eropa hal ini menjadi standar agar kadar oksigen di kabin tetap terjaga. Tapi di Indonesia, malah asap kendaraan yang akan masuk ke interior.
Rem parkir pun, Cortez telah menggunakan jenis elektris. Tak heran jika seluruh rem menggunakan jenis cakram. Bahkan Cortez telah dilengkapi fitur Automatic Vehicle Holding (AVH) dan Hill Hold Control (HHC) yang sangat berguna.
Jadi pengemudi tidak perlu lagi menginjak pedal rem saat berhenti, meski posisi transmisi otomatis 5-speed nya berada di D (Drive).
Performa transmisi yang diberi nama i-AMT (intelligent Automated Mechanical Transmission) menjadi catatan tersendiri.
Entakan perpindahan gigi terutama di kecepatan rendah cukup terasa. Hal ini akibat mapping komputer yang kurang sigap sehingga perpindahan terasa delay.
Begitupun efek engine brake yang dihasilkan saat berada dalam mode Eco (E), namun sedikit membaik saat menggunakan mode Sport (S).
Jadi pengemudi disarankan untuk beradaptasi terlebih dahulu dengan karakter transmisi Cortez jika ingin menggunakan mode otomatis (D).
Wajar jika dalam media Test Drive ini, pengemudi wajib menggunakan mode manual (M) saat melalui jalan menanjak dan menurun curam serta berliku menuju Bromo.
Untuk suspensi, ini menjadi keunggulan Wuling Cortez tipe L. Penerapan suspensi independen di belakang memberi dampak positif dalam melibas jalan rusak. Hal ini dikarenakan penerapan swing arm aluminium layaknya mobil balap.
Konsekuensi mobil nyaman, tentu mempengaruhi pengendalian. Meski akurasi kemudi Cortez tidak terlalu akurat, namun masih dalam batas toleransi, mengingat ini sebuah mobil keluarga. Apalagi Wuling menyematkan fitur Electronic Stability Control (ESC).
Untuk performa mesin sendiri, Wuling Cortez berada dalam batas cukup. Mesin berkapasitas 1.800 cc mampu menghasilkan tenaga 129 hp di 5.600 rpm serta torsi 174 Nm sejak 3.600 rpm.
Untungnya, Cortez mengadopsi gerak roda depan sehingga penyaluran tenaga lebih efisien.
Posisi Penumpang
Puas menjadi pengemudi, kini saatnya mencoba kenyamanan sebagai penumpang. Ruang lapang menjadi keunggulan Cortez. Begitu pun dengan penerapan captain seat di bangku baris kedua.
Mencoba duduk di bangku baris ketiga pun tetap terasa lega dengan sudut bangku yang dapat diatur santai sehingga tidak terasa pegal meski perjalanan jauh sekalipun.
Bahkan dalam posisi seperti ini, Cortez tetap menawarkan ruang bagasi yang lapang.
Pengaturan AC digital juga ditawarkan untuk penumpang belakang. Asyiknya, ditiap baris tersedia USB port yang berfungsi sebagai charger.
Lapisan atap tebal pun membuat keheningan Cortez termewah ini tetap terjaga meski kondisi hujan deras.
Sebagai New Kid On The Block, Wuling Cortez memang menjadi ancaman serius di kelasnya. Perpaduan harga dengan produk, membuat Cortez terlihat begitu value for money.
[Dhany Ekasaputra]
#Wuling Cortez #Review Wuling Cortez #Test Drive Cortez
Author : Dhany Ekasaputra > 321 Articles
Dhany Ekasaputra merupakan lulusan jurusan Teknik Mesin Universitas Pancasila yang memulai karir dibidang otomotif sejak;
- 1997 : Komunitas Balap KE System
- 1999 : Balap Turing dan Drag Race
- 2001 : Wartawan Tabloid Otosport
- 2003 : Wartawan Auto Bild Indonesia
- 2007 : PIC Auto Bild Indonesia Award
- 2009 : Editor Teknik Auto Bild Indonesia
- 2015 : Safety Driving Institute Otomotif Group
- 2016 : Manager Otomontir Kompas Gramedia
- 2018 : Redaktur Pelaksana Aftermarketplus.id
List Comment
No Comment