AFTERMARKETPLUS.id - Bermodal mesin 1,3 liter, awalnya banyak yang sanksi performa generasi kedua Mercedes-Benz GLA 200. Kami juga heran sih, semakin ke sini kapasitas mesin mobil-mobil semakin kecil.
Untungnya, performa Mercedes-Benz GLA 200 tidak menurun dibanding sebelumnya. Bahkan di atas kertas performanya lebih baik.
Mesin 1,6 liter turbo milik GLA 200 sebelumnya menghasilkan tenaga 156 PS dengan torsi puncak 250 Nm. Akselerasi 0-100 km/jam dapat ditempuh dalam 8,9 detik. Kecepatan maksimumnya 215 km/jam.

Generasi kedua GLA 200 dibekali mesin 1,3 liter turbo yang menariknya justru menghasilkan tenaga lebih besar, yakni 163 PS dengan torsi puncak 250 Nm.
Akselerasi 0-100 km/jam diklaim sama dengan sebelumnya. Tetapi kecepatan maksimal dibatasi 210 km/jam.
Setelah membaca spesifikasinya, hati merasa cukup lega. Artinya para insinyur Daimler AG di Stuttgart masih mau berjuang menemukan solusi efisiensi berkendara tanpa harus berkompromi terhadap performa.
Makanya waktu pertama duduk di depan kemudinya, hal pertama yang kami lakukan, menyetel mode berkendara ke posisi 'Sport' dan langsung menguji performanya.

Tak Lagi Terasa Seperti Hatchback Sporty
Pertama, kami injak pedal gas dalam-dalam dan membiarkan transmisi otomatis 7G-DCT bekerja sendiri. Hasilnya tak mengecewakan, ekspektasi kami berhasil dipenuhi.
Perpindahan giginya terasa begitu cekatan saat rpm, hampir menyentuh red line. Tetapi yang bikin kaget, secara otomatis komputer memerintahkan mesin melakukan revving agar performanya tidak kendor pada saat melakukan perpindahan gigi.
Wah, jadi tak perlu repot lagi melakukan teknik heel and toe. Sungguh performanya cukup memadai untuk ukuran entry-level crossover bermesin 1,3 liter.
Membuat kami lebih terkejut lagi, rasa berkendaranya kini jauh berbeda dari sebelumnya.

Generasi pertama Mercedes-Benz GLA punya reputasi sebagai crossover dengan rasa berkendara yang lebih menyerupai sport hatchback. Kali ini rasa berkendaranya berubah menjadi jauh lebih nyaman.
Sepertinya para insinyur Daimler membuat kualitas bantingan suspensinya jadi lebih sempurna. Bantingan suspensinya tak keras seperti GLA sebelumnya yang sangat tidak nyaman.
Rasa berkendara GLA sekarang mirip GLC. Walaupun bantingan suspensinya terasa lebih lembut, tetapi multi-link axle di belakang sukses membuat GLA 200 melaju dengan stabil saat bermanuver di tikungan maupun saat melibas permukaan jalan yang tak rata.
Hanya memang harus diakui pergerakan kemudinya jadi tak setajam sebelumnya. Bahkan bobot kemudinya cenderung terlalu ringan sehingga mengurangi kesenangan mengemudi.
Tetapi tak mengapa, justri perilaku Mercedes-Benz GLA 200 yang sekarang ini justru cocok dengan fitrahnya sebagai entry-level SUV.
Fitur canggih seperti Active Parking Assist with Parktronic yang dapat memarkir kendaraan secara otomatis semakin mendukung asumsi kami tersebut.
Jujur saja kami lebih suka GLA yang sekarang. Karena kalau Anda mencari hot hatch terjangkau Mercedes-Benz, sekalian saja pilih Mercedes-AMG A45.
[Rizky Satria]
#Test Drive #Crossover #GLA 200 Facelift #Test Drive Mercedes-Benz GLA 200 Facelift #GLA 200
Author : Rizki Satria > 64 Articles
BROOM.ID I 2023-2024 Sr. Marketing Associate & Social Media Specialist
MOLADIN.COM I 2022 SEO Content Writer (Freelance)
OTO.COM I 2017-2022 Ass. Managing Editor & YouTube Channel Manager
ASCOMAXX, MOTOMAXX, DRIVENOW! I 2013-2017 Managing Editor
AUTOCAR INDONESIA I 2010-2013 Reporter / Journalist
List Comment
No Comment