TEST DRIVE Hyundai Kona Electric: Seperti Apa Mobil Listrik Termurah di Indonesia (Bag-2)

Foto: aftermarketplus.id

AFTERMARKETPLUS.id – Pada bagian sebelumnya kami sudah membahas eksterior dan interior serta fitur Hyundai Kona Electric. Sekarang kita bahas mengenai rasa berkendara, performa dan pengecasan baterainya.

Oke setelah duduk di depan kemudi, langsung saja hidupkan kendaraan. Seperti mobil listrik pada umumnya, tak ada bunyi-bunyi dan getaran saat kendaraan sudah siap beroperasi. Hanya layar di panel instrumen yang menyala menandakan Hyundai Kona Electric telah siap bergerak.

Performa

Secara umum sistem penggerak Hyundai Kona sama dengan Hyundai Ioniq. Mobil listrik yang juga dipasarkan Hyundai di Indonesia. Ia menggunakan pemanent magnet synchronous motor yang menghasilkan tenaga sekitar 136 hp dan torsi puncak 395 Nm. Sebagai ilustrasi Kona bermesin bensin menggunakan mesin 2,0 liter yang bertenaga 149 hp dengan torsi puncak 179,4 Nm. Nah terbayang sudahkan perbedaan torsi yang begitu timpang antara keduanya.

Buat Anda yang paham mobil listrik pasti punya argumen, ‘namanya juga mobil listrik sudah pasti torsinya besar’. Boleh beranggapan seperti itu. Tapi biar lebih yakin lagi, Hyundai Ioniq, yang memakai basis sistem penggerak yang sama dengan Kona Electric, hanya menghasilkan 295 Nm. Beda 100 Nm itu tidak main-main. Menurut klaim Hyundai, dalam mode Sport kecepatan 100 km/jam dapat diraih dari posisi diam kurang dari 10 detik.

Anda akan bisa merasakannya setelah memencet tombol dan menginjak pedal gas dalam-dalam, respons pedal gasnya sangat instan bahkan di kecepatan menengah sekalipun. Menariknya Hyundai menawarkan beberapa mode berkendara. Nah ini perbedaannya cukup signifikan diantara mode berkendara.

Pertama mode berkendara normal. Pada mode ini Anda dapat merasakan engine brake ketika mengangkat pedal gas. Boleh dibilang mobil akan melakukan deselerasi secara moderat walau pedal rem tak diinjak. Deselerasi akan terasa lebih kuat lagi dalam mode Eco. Tujuannya bukan semata hanya untuk faktor keselamatan saat menghadapi jalanan dengan kontur menurun, tapi deselerasi ini sekaligus berfungsi regeneratif untuk mengisi ulang energi baterainya.

Sebagai pelengkap, di kemudi ada semacam paddle-shift. Kalau pada mobil bermesin pembakaran, paddle-shift berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan posisi transmisi. Tapi di mobil listrik tidak ada posisi gigi. Jadi paddle-shift di balik lingkar kemudinya berguna untuk mengatur level regeneratif itu tadi. Semain tinggi tingkat regeneratifnya, semakin kuat deselerasinya. Begitu sebaliknya.

Paling asik, aktifkan mode berkendara sport dan atur tingkat regeneratif ke posisi paling rendah. Respons pedal gas jadi terasa begitu instan dan kalau pedal gas diangkat rasaya seperti los saja. Cuma itu akan membuat konsumsi energi baterainya menjadi lebih boros daripada mode lainnya.

Rasa Berkendara

Naik mobil listrik ya sensasinya jelas sedikit berbeda. Karena tak ada geraman suara mesin maupun deruman suara knalpot. Adanya desin suara motor elektrik yang sayup-sayup terdengar. Tetapi suara artikulasi roda dengan permukaan jalan dan kebisingan angin tentu saja tetap ada.

Respons kemudinya cukup menyenangkan. Meski tak terlalu sportif tapi pergerakannya linear dan sangat intuitif. Maksudnya mobil ini mudah dijinakkan. Stabilitas berkendaranya juga sangat baik. Setelan bantingan suspensinya dibuat cukup nyaman tapi tak terlalu lembut. Sehingga ketika menikung gejala body roll bisa dengan mudah diminimalkan.

Mengecas baterai

Puas menguji mobil ini, kami kembali ke rumah. Saatnya mengisi kembali daya baterainya. Kebetulan rumah kami punya daya 4.400 Watt sehingga lebih dari cukup untuk digunakan mengecas Hyundai Kona Electric. Kondisi saat hendak dicas sisa energi di baterai tinggal 41 persen. Saat colokan listrik rumah terhubung dengan port di moncong Kona, langsung terpampang durasi pengecasan butuh 14 jam 10 menit hingga energi baterainya kembali 100 persen.

Bagaimana kalau keesokan harinya kondisi baterai belum terisi penuh namun Anda sudah ingin berangkat bekerja? Kebetulan hal ini pula yang kami alami. Sekitar pukul delapan pagi keesokan harinya, baterai Kona baru terisi 89 persen. Walau belum penuh, Kona masih bisa dipakai pergi sejauh lebih dari 200 km. 

[MNR]

About pekik udi irianto 1613 Articles
1. Otomotif Tabloid, PT Dunia Otomotifindo - Group of Magazine as Photographer from May 2, 1994 to June 14, 2001 2. Otosport Tabloid, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photographer from June 15, 2001 to December 31, 2001 3. Otosport Tabloid, Automotive Media Supporting Unit, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2002 to December 31, 2002 4. Otosport Tabloid, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2003 to April 5, 2003 5. Auto Bild Magazine, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from May 6, 2003 to December 31, 2008 6. Photographic Section, Auto Bild Editorial Department, Automotif Media, Publishing II Division, PT Infometro Mediatama - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2009 to October 31, 2014 7. aftermarketplus.id as Editor in Chief from August 2, 2015 to present