Test Drive Hyundai Palisade Signature AWD: SUV Diesel Berbodi Bongsor di Atas Rangka Monokok

Foto: aftermarketplus.id

AFTERMARKETPLUS.id – Hyundai Palisade menggoda lewat desain eksterior yang macho dan bergaya ala SUV (Sport Utility Vehicle) mewah dari Amerika Serikat. Harganya memang tak semahal Cadillac Escalade, tetapi Palisade tetap tawarkan kemewahan berupa captain seat dan atap panoramic di baris kedua. Tetapi seperti apa rasanya saat dikendarai?

Melihat tubuhnya pasti banyak yang membandingkannya dengan Toyota Fortuner ataupun Mitsubishi Pajero Sport. Oke, di artikel sebelumnya kami sudah bahas kalau Hyundai Palisade berada satu kelas lebih tinggi dibanding kedua mobil tersebut. Kenapa, karena harganya yang mulai dari Rp 777 juta jauh lebih mahal ketimbang Fortuner ataupun Pajero Sport.

Apalagi tipe Signature AWD. Varian tertinggi yang kami uji ini dibanderol Rp 1,078 miliar. Harganya ini justru bersaing dengan Mazda CX-9 yang dijual mulai Rp 869,9 juta sampai Rp 998,8 juta. Padahal kalau dilihat kapasitas mesinnya, Palisade justru memakai mesin yang berkapasitas lebih kecil dibanding Mitsubishi Pajero Sport maupun Toyota Fortuner. Menarik bukan?

Berdiri di atas struktur rangka monokok

Bukan bermaksud untuk membandingkan Palisade dengan Pajero Sport ataupun Fortuner, tetapi untuk memberi gambaran saja. Walaupun sama seperti mereka, memakai mesin diesel, namun Palisade berdiri di atas struktur rangka monokok. Chassis tipe ini memberi keuntungan berupa rasa berkendara yang lebih sportif dibanding mobil dengan struktur rangka jenis ladder frame yang dipakai Fortuner dan Pajero Sport.

Struktur rangka serupa cangkang utuh ini, di jalanan diterjemahkan menjadi stabilitas berkendara yang prima. Itu mengapa saat dipakai melaju kencang mobil terasa begitu mencengkeram aspal. Berbeda dengan kebanyakan mobil diesel ladder frame yang terasa melayang saat melaju kencang. Begitupun saat menikung di kecepatan tinggi. Saat lingkar kemudi diputar, sesaat itu pula bodi mobil dengan panjang hampir 5 meter ini langsung merespons.

Begitu menurutnya pergerakan bodi mobil, membuat saya terlena dan tak terasa kalau sedang mengemudikan mobil berbobot sekitar 2 ton berdimensi panjang 4.980 mm, lebar 1.975 mm, dan tinggi 1.750 mm. Tetapi memang benar begitu adanya, apalagi bobot kemudinya terasa sangat enteng. Jujur, impresi pertama saya, sangat mudah menguasai mobil ini.

Gang sempit bukan habitatnya

Tapi apapun itu, tetap saja bodinya besar. Jadi gang sempit bukanlah habitat yang tepat untuk mobil ini. Karena ketelitian benar-benar harus diperhatikan kalau tak ingin spion samping menyenggol kendaraan dari arah berlawanan. Sebetulnya bisa dipahami, karena jalanan besar di Amerika Serikat lah yang ada di benak para insinyur Hyundai saat mendesain mobil ini.

Bodi yang besar jelas memberikan ruang kabin yang lapang bagi penghuninya. Sewaktu masuk ke dalam kabin dan duduk di depan kemudi, ruang kaki maupun ruang kepala terasa begitu lega. Menariknya lagi, saat melihat ke depan, pandangan terasa begitu luas. Posisi berkendara pun bisa ditemukan dengan mudah lewat tombol elektris. Walaupun harus sedikit dikritisi, posisi lingkar kemudi masih harus diatur secara manual.

Tekan tombol Start-Stop dan suara mesin diesel yang konon kabarnya berisik hanya sayup-sayup saja terdengar ke dalam kabin. Entah firewall yang sangat tebal ataupun banyaknya peredaman di dalam kabin, yang jelas kesenyapan kabin Hyundai Palisade memang ditujukan sepenuhnya untuk memberikan kenyamanan hakiki bagi penghuni kabinnya.

Seluruh instrumen dalam jangkauan pengemudi. Posisi berkendara yang ergonomis ini dicapai berkat adanya konsol tengah tempat ditaruhnya seluruh tombol pengaturan berkendara seperti AC yang biasanya menempel di dashboard. Di dekat tombol-tombol pengaturan AC, terdapat tombol P, R, N dan D.

Bak mobil listrik Hyundai Kona Electric, Palisade juga ternyata sudah meninggalkan tuas transmisi dan beralih ke tombol untuk mengoperasikan transmisi otomatis 8-speed shift-by-wire miliknya. Begitupun dengan tuas rem tangan yang hilang berganti tuas rem tangan elektrik. Cuma posisinya agak unik, yakni di dashboard dekat pengatur ketinggian sorot lampu.

Lantas bagaimana dengan performanya? Kami ulas di artikel berikutnya berikut dengan penjelasan seputar mode berkendara, fitur keselamatan, fitur bantuan berkendara serta tentunya, kemampuannya saat dipakai melahap medan non aspal.

[MNR]

About pekik udi irianto 1596 Articles
1. Otomotif Tabloid, PT Dunia Otomotifindo - Group of Magazine as Photographer from May 2, 1994 to June 14, 2001 2. Otosport Tabloid, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photographer from June 15, 2001 to December 31, 2001 3. Otosport Tabloid, Automotive Media Supporting Unit, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2002 to December 31, 2002 4. Otosport Tabloid, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2003 to April 5, 2003 5. Auto Bild Magazine, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from May 6, 2003 to December 31, 2008 6. Photographic Section, Auto Bild Editorial Department, Automotif Media, Publishing II Division, PT Infometro Mediatama - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2009 to October 31, 2014 7. aftermarketplus.id as Editor in Chief from August 2, 2015 to present