AFTERMARKETPLUS.id - Jaecoo J5 EV adalah mobil yang menarik. Di satu sisi, ia datang membawa citra SUV (Sport Utility Vehicle) listrik modern dengan desain rapi dan interior yang ingin terlihat matang.
Di sisi lain, semakin lama diamati, semakin terasa bahwa banyak keputusan produk di mobil ini dibuat dengan kompromi yang terlalu besar.
Ini bukan mobil yang buruk. Tapi juga bukan mobil yang benar-benar yakin dengan identitasnya sendiri.

Dan di kelas SUV listrik yang semakin kompetitif, keraguan seperti itu layak untuk dibedah secara jujur.
Eksterior: Terlalu Aman
Dari luar, Jaecoo J5 EV memang enak dipandang. Proporsinya pas, garis bodinya rapi, dan tidak ada elemen desain yang benar-benar mengganggu mata. Namun justru di situlah masalah pertamanya.
Fasia depan tertutup khas EV, lampu LED sipit, dan aksen geometris di bumper adalah formula yang sudah sering kita lihat.
Tidak ada satu elemen pun yang membuat orang spontan bertanya, "Ini Jaecoo, ya?" Tanpa logo di kap mesin, J5 EV bisa dengan mudah disangka sebagai SUV listrik dari merek lain.
Ini bukan soal harus tampil ekstrem. Tapi untuk brand yang masih membangun reputasi, identitas visual adalah senjata utama dan J5 EV belum benar-benar menggunakannya.
Bagian samping dan belakang juga mengikuti pola serupa. Rapi, proporsional, tapi generik.
Lampu belakang memanjang memang memberi kesan modern, namun lagi-lagi terasa seperti keputusan desain yang diambil karena "ini yang sudah terbukti disukai pasar", bukan karena "ini yang kami yakini".
Interior: Modern
Masuk ke kabin, impresi awal J5 EV cukup positif. Tata letak dashboard modern, layar besar mendominasi tengah, dan minim tombol fisik. Ini adalah pendekatan yang sejalan dengan tren global mobil listrik.
Namun setelah beberapa menit duduk dan mengamati, ilusi kemewahan itu mulai terkelupas pelan-pelan.

Material yang digunakan sebagian besar adalah plastik keras dengan finishing yang berusaha disamarkan lewat tekstur.
Dari jauh terlihat rapi, dari dekat terasa biasa saja. Beberapa panel terasa kurang solid saat ditekan, dan ini menurunkan kesan kualitas yang sejak awal ingin dibangun.
Layar sentuh memang besar, tapi tampilan mode cenderung datar secara visual. Fungsional, iya. Menggugah, tidak.
Navigasi menu membutuhkan adaptasi, dan ketergantungan berlebihan pada layar untuk fungsi dasar seperti pengaturan AC jelas bukan keputusan ergonomi terbaik.
Di sinilah terasa bahwa J5 EV ingin terlihat seperti SUV listrik premium, tetapi belum siap membayar harga teknis dan material untuk benar-benar menjadi premium.
Ergonomi: Minimalis
Minimalisme di interior J5 EV menunjukkan bahwa keputusan desain yang diambil lebih karena tren, bukan kebutuhan pengguna. Hampir semua fungsi dikonsentrasikan ke layar sentuh, dengan tombol fisik yang sangat minim.
Masalahnya, tidak semua pengguna menginginkan interaksi berbasis layar untuk setiap hal kecil.
Saat berkendara, mengatur suhu atau kipas seharusnya bisa dilakukan tanpa mengalihkan perhatian terlalu lama dari jalan. Di J5 EV, ini terasa kurang pas.
Posisi duduk pengemudi sendiri sebenarnya cukup baik. Visibilitas ke depan dan samping tergolong oke, namun ke belakang terasa terbatas. Pilar belakang cukup tebal, dan ini menambah ketergantungan pada kamera.
Ruang dan Kepraktisan: Cukup, Tapi Tidak Istimewa
Untuk ukuran SUV kompak, ruang kabin Jaecoo J5 EV tergolong memadai. Penumpang belakang masih mendapatkan ruang kaki yang layak, meski tidak bisa disebut lega. Headroom cukup, namun terasa bahwa atap dibuat lebih rendah demi menjaga siluet bodi.

Bagasi juga berada di kategori "cukup". Tidak mengecewakan, tapi juga tidak menawarkan fleksibilitas ekstra yang biasanya diharapkan dari SUV.
Ini membuat J5 EV terasa lebih cocok sebagai kendaraan harian perkotaan, bukan sebagai mobil keluarga yang serba bisa.
Fitur Interior: Banyak
Daftar fitur J5 EV terlihat menarik di atas kertas. Layar besar, konektivitas digital, pengaturan kendaraan terintegrasi-semuanya ada. Namun eksekusinya terasa seperti mengikuti template, bukan dirancang dari sudut pandang pengalaman pengguna.
Tidak ada fitur yang benar-benar terasa unik atau menjadi pembeda kuat dari kompetitor. Bahkan beberapa fitur yang seharusnya menjadi nilai jual justru terasa biasa karena tidak dikemas dengan pengalaman yang istimewa.
Jaecoo J5 EV adalah contoh mobil yang terlihat siap di brosur dan presentasi, namun saat dianalisis lebih dalam, ternyata belum sepenuhnya matang.
Ia bukan mobil gagal. Bahkan, untuk sebagian konsumen, J5 EV mungkin sudah lebih dari cukup. Namun untuk pasar SUV listrik yang kini semakin kritis, cukup saja tidak lagi cukup.
Jaecoo perlu memutuskan satu hal penting ke depan: Ingin menjadi SUV listrik yang aman dan cepat diterima, atau SUV listrik yang berani dan diingat.
Author : Rizki Satria > 64 Articles
BROOM.ID I 2023-2024 Sr. Marketing Associate & Social Media Specialist
MOLADIN.COM I 2022 SEO Content Writer (Freelance)
OTO.COM I 2017-2022 Ass. Managing Editor & YouTube Channel Manager
ASCOMAXX, MOTOMAXX, DRIVENOW! I 2013-2017 Managing Editor
AUTOCAR INDONESIA I 2010-2013 Reporter / Journalist
List Comment
No Comment