Test Drive KIA Sonet: Desain Modern dan Fitur Berlimpah

Foto: Istimewa

AFTERMARKETPLUS.id – KIA Sonet yang dijual di bawah Rp 300 juta sangat menggoda lewat desain eksterior modern dan interior yang cukup nyaman. Meskipun kualitas material interior, kelapangan kabin dan fleksibilitas pelipatan kursi baris keduanya tidak sempurna. Kami sudah membahas eksterior dan interior mobil ini di bagian pertama tulisan ini. Sekarang kita lihat fitur, performa dan rasa berkendara mobil ini.

Kelengkapan Fitur

Memang kualitas material interior mobil ini tidaklah istimewa. Tetapi harus diakui KIA Sonet punya perbekalan fitur yang memadai. Misalnya, ia dilengkapi sistem multimedia 8-inci dengan konektivitas Bluetooth, USB, Auxiliary hingga Android Auto dan Apple CarPlay.

Tak Cuma punya banyak opsi konektivitas, sistem multimedianya ini juga dapat mengeluarkan suara berkualitas lewat sound system premium dari BOSE. Untuk menambah kemeriahan suasana di dalam kabin kala menyetel musik, KIA menghadirkan fitur Mood Light, berupa lampu ambiance warna-warni di dalam kantung sisi dalam pintu yang dapat berkelap-kelip mengikuti irama dentuman bass. Kekinian sekali ya!

Tahu betul konsumennya bakal sering menyetel musik lewat smartphone di dalam mobil, KIA menyediakan wireless charging di konsol tengah. Taruh ponsel dengan NFC di tray dan ponsel dapat terisi kembali daya baterainya secara nirkabel. Tak perlu khawatir ponsel kepanasan saat dicas, di tempat ini juga ada ventilasi hembusan AC. Mudah dan praktis.

Pas di tengah, tepat diantara layar sistem multimedia dan tray wireless charging system terdapat pengaturan AC. Indikatornya sudah digital tetapi pengaturannya masih menggunakan tombol konvensional dari material plastik yang biasa saja. Desainnya pun cenderung kaku. Tapi tak mengapa karena fiturnya sudah otomatis.

Asyiknya lagi, AC ini juga bisa dihembuskan ke kursi berventilasi. Ya, ada semburan AC keluar dari lubang berpori di sandaran punggung kursi depan. Fitur pendingin kursi ini pasti jadi idaman pengemudi yang sering kegerahan hingga punggungnya keringatan saat menyetir berlama-lama. Tapi kalau Anda takut masuk angin, fitur ini bisa dimatikan.

Lingkar kemudi yang berbalut kulit juga memiliki banyak tombol. Mulai dari pengaturan audio, pengaturan layar MID (Multi Information Display) digital hingga cruise control.

Masih kurang? Lihat ke atap karena ada sunroof elektris yang bisa dibuka hanya dengan memencet tombol. Tetapi tirai penutupnya masih harus digeser manual untuk menutupnya. Lumayan kan, dengan harga kurang dari Rp 300 juta, Anda bisa mendapatkan crossover ringkas non Cina yang memakai sunroof.

Fitur lainnya yang tak boleh lupa untuk disebutkan adalah, tombol Start-Stop Engine dan kunci pintar (Smart key). Kunci pintarnya, saking pintarnya malah bisa dipakai untuk menghidupkan mesin dari luar kendaraan. Jadi kalau kita mau memanaskan kendaraan, tinggal pencet tombol dari remote mesin dan AC otomatis hidup. Fitur ini juga bermanfaat kalau mobil terparkir di bawah siraman terik matahari. Jadi waktu masuk ke dalam kabin, suasana sudah sejuk.

Mesin dan Performa

Ini dia yang menarik. KIA Sonet dibekali mesin berkapasitas 1,5 liter. Mesinnya ini bahkan lebih besar dari saudaranya, KIA Seltos yang memakai mesin 1,4 liter. Cuma memang jangan bandingkan performanya. Karena mesin Sonet tidak dibekali bantuan induksi turbo seperti kakaknya itu.

Mesin Gamma II 4-silinder 1,5 liter naturally aspirated KIA Sonet menghasilkan tenaga 115 PS pada 6.300 rpm dengan torsi maksimum 144 Nm pada 4.500 rpm. Performanya di atas kertas, terbilang rata-rata bila dibandingkan dengan mobil bermesin 1,5 liter lainnya yang dipasarkan di Indonesia. Menariknya mesin ini, ia sudah menganut teknologi Dual CVVT atau katup variabel ganda dan Dual Fuel Injector. Jadi seharusnya pembakaran menjadi lebih sempurna di beragam rentang kecepatan.

Terbukti, respons pedal gas terasa begitu berisi. Akselerasinya terasa lebih superior dibanding kompetitor bermesin 1,5 liter lainnya. Padahal KIA Sonet memakai transmisi otomatis jenis CVT (Continuous Variable Transmission) atau yang mereka sebut Smartstream iVT (Intelligent Variable Transmission).

Memang di posisi D, kalau pedal gas dipijak dalam-dalam mesin akan melejit dan menahan putaran mesin di rpm tertinggi. Suara mesin menggerung kencang masuk ke dalam kabin. Transmisi yang beroperasi mengatur rasio yang sempurna untuk menyalurkan tenaga secara proporsional.

Asyiknya, KIA menyediakan mode perpindahan gigi secara manual. Jadi seolah sistem transmisi CVT ini memiliki beberapa langkah dengan rasio tertentu seperti layaknya mobil bertransmisi otomatis konvensional. Jadi kalau ingin ngebut, kami lebih suka menggeser tuas transmisi  ke posisi manual dan pindah ke mode berkendara Sport. Nah kalau begini, kita bisa merasakan sensasi jarum rpm naik-turun saat tuas transmisi dioperasikan untuk menaikan atau menurunkan posisi gigi. Total terdapat 8-speed yang bisa dipiilih sesuai dengan kecepatan kendaraan.

Bicara soal mode berkendara, KIA menawarkan tiga pilihan mode berkendara, Eco, Normal dan Sport. Tak perlu dijelaskan, setiap mode berkendara menawarkan respons pedal gas sesuai dengan namanya. Misal, di mode Eco tarikan mobil terasa lebih berat. Tetapi ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi bahan bakarnya.

Selain ketiga mode berkendara tersebut, ada tiga pilihan traksi, Snow, Mud dan Sand. Bak mobil offroad canggih nan mewah, ketiga mode traksi tersebut menawarkan kontrol dan grip ke permukaan yang disesuaikan dengan medan yang sedang dilalui. Tapi perlu diingat, mode traksi ini tak bisa aktif bersamaan dengan mode berkendara.

Jadi kalau sedang mengaktifkan mode Sand, maka mode berkendara Eco, Normal dan Sport tadi otomatis non-aktif. Begitupun sebaliknya. Jadi di jalanan aspal, Anda tak usah repot memilih mode traksi. Cukup pilih mode berkendara Eco, Normal atau Sport saja maka mode traksi otomatis non aktif sendirinya.

Stabilitas dan Rasa Berkendara

Saat melaju, kualitas bantingan suspensi mobil ini menunjukkan kelasnya. Terasa sekali jauh berbeda dari KIA Seltos. Redaman suspensinya memang cukup baik untuk dipakai berkendara di jalanan yang mulus. Tapi saat menghadapi lubang, baru terasa redamannya tak seempuk yang diharapkan. Kenyamanan sedikit terganggu di dalam kabin.

Tetapi efeknya, stabilitas terjaga di kecepatan tinggi. Manuver di tikungan dalam kecepatan menengah dapat diantisipasi dengan baik. Gejala body roll dapat diminmalkan dengan baik. Begitupun dengan pergerakan kemudinya yang cukup linear. Intinya tak sulit menjinakkan KIA Sonet.

Kesimpulan

Singkatnya dengan harga Rp 289 juta, KIA Sonet jelas punya modal bagus untuk menggasak segmen harga yang jadi primadona pasar otomotif Nasional. Desain eksterior yang modern nan mewah dan fitur berlimpah jelas jadi keunggulan yang mungkin tak banyak ditemui pada kendaraan dengan harga setara.

Meski tetap saja, mobil ini bukanlah mobil yang sempurna. Masih banyak yang harus ditingkatkan kalau ingin dirinya disebut pantas berlabel Rp 289 juta. Misalnya, kursi baris kedua dengan konfigurasi pelipatan sebagian hingga material interior yang perlu ditingkatkan. Kalau menurut Anda apakah harga itu pantas untuk menebus mobil ini? 

[MNR]

About pekik udi irianto 1560 Articles
1. Otomotif Tabloid, PT Dunia Otomotifindo - Group of Magazine as Photographer from May 2, 1994 to June 14, 2001 2. Otosport Tabloid, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photographer from June 15, 2001 to December 31, 2001 3. Otosport Tabloid, Automotive Media Supporting Unit, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2002 to December 31, 2002 4. Otosport Tabloid, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2003 to April 5, 2003 5. Auto Bild Magazine, PT Penerbit Media Motorindo - Group of Magazine as Photo Editor from May 6, 2003 to December 31, 2008 6. Photographic Section, Auto Bild Editorial Department, Automotif Media, Publishing II Division, PT Infometro Mediatama - Group of Magazine as Photo Editor from January 1, 2009 to October 31, 2014 7. aftermarketplus.id as Editor in Chief from August 2, 2015 to present